Minggu, 30 Agustus 2009

Peta

Suatu hari Marcopolo – lelaki penjelajah itu – menangis. Air matanya tumpah di tanah. Lelaki perkasa itu menitikkan air mata karena tak ada lagi tempat yang bisa ia jelajahi. Tak ada lagi peta yang bisa direngkuhi.

”Kenapa kau menangis, Marcopolo?” tanya seseorang penduduk.
”Karena tak ada lagi tempat yang bisa aku jelajahi. Tidak ada lagi peta menantang untuk menginjakkan kaki,” ujarnya.
”Begitukah? Lihatlah ke bawah, tempat air matamu tumpah. Air mata itu adalah peta yang bisa kau jelajah. Air mata anak-anak, air mata perempuan, air mata lelaki. Air mata itulah kehidupan yang tidak pernah habis kita jelajahi,” ujar penduduk itu lagi.

Garin Nugroho mendongengkan itu untuk saya – dan kita, tadi malam. Ya Garin mendongeng.

Ia melanjutkan. Di Lamalera, ada tradisi bertukar hasil gunung dan hasil laut. Lurah menjadi wasitnya. Begitu peluit ditiup, orang gunung dan laut saling membertukarkan hasil mereka. Ini upacara tentang ekonomi orang gunung dan pantai. Pertukaran itu tanpa saling mematikan. Garam telah menghidupkan gunung, gunug telah memberikan sayuran bagi nelayan.

”Pertukaranlah! Jangan jadikan kematian dalam ekonomi, ” kata sang filsuf. Dibalik garam, dibalik padi: ada kehidupan, ada puisi ada harapan, ada keluarga. Itu yang kita lalui. Tapi kini kita tak jadi filsuf ekonomi. Kita jadi makelar, yang paling mengerti menukar kehidupan dengan kematian, dalam sistem ekonomi yang saling mematikan. Menukar apel Malang dengan apel Zwitzerland. Garam lokal dengan garam impor.

”Mata air dan sungai adalah kehidupan kita.”

Mata air itu adalah kehidupan kita, garam kita dan gula kita. Sepotong apel lokal, penuh dengan cita-cita dan harapan. Termasuk gabah. Gabah adalah baju terakhir para petani. Jangan buang baju terakhir kaum tani. Gabah mereka jual dengan harapan. Kalau gegabah menghargai gabah, maka sama artinya dengan membuang baju terakhir para petani.

Jadikan mata air kita punya sungai. Kalau tidak punya sungai maka air mata ini akan menjadi badai. Sungai harus kita bangun lagi.

Lalu Franky Sahilatua pun mendendangkan mata air tanpa sungai. Dan dongeng selesai.

Dongeng. Begitu dasyat tutur ini mempengaruhi imaji saya ketika kanak-kanak. Membuat saya mampu membayangkan putri kerajaan, pengemis, pemulung, kelaparan, badai dan hujan. Juga merasakan kasih sayang induk ayam kepada anak-anaknya.

Sampai kini pun, saya suka terkekeh sendiri ketika eyang Bhumy - anak saya – mendongeng kancil dan buaya, tentang robot atau pun pesawat. Lalu tawa eyangnya pun akan meledak, kalau ada tanya dari Bhumy di luar akal dewasa eyangnya.

Dongeng ayah menjelang tidur dulu, ternyata kini jadi pelita yang tak pernah padam di pikiran saya. Berimajinasi tentang apa saja. Dan ia tetap menyala.

Lalu, anak pun jadi dewasa, tanpa sempat kita mendongeng untuknya. Karena sibuk kerja.
Sudahkah ada dongeng malam ini untuk cinta kita?


Emmy Kuswandari, Agustus 2009


Dalam perjalanan Jakarta - Yogya

Selasa, 25 Agustus 2009

Titik Nol


Kamu menimbang berat badanmu pagi itu. Memastikan jarumnya mulai di angka nol. Bergeser sedikit saja, kamu akan menggerutu, karena timbangan tak tepat lagi katamu. Kau begitu setia dengan timbanganmu. Tepatnya dengan angka nol, sebelum kau injakkan kaki di sana.

Padahal, tak penting bagiku berapa berat badanmu. Kau yang selalu risau. Buatku, menawan itu tampak dari sorot matamu, ketika kau berucap ”Aku sayang kamu,” setiap menitnya. Mungkin melebihi anjuran minum obat dari dokter yang cukup tiga kali sehari. Menarik itu dari tutur dan sapaan hangatmu. Karena kamu bicara dari kedalaman hatimu.

Tapi, mengapa titik nol itu begitu penting bagimu?
Dan ternyata aku suka jawabanmu. ”Karena ia adalah awal,” katamu waktu itu. ”Seperti keluarga. Seperti rumah kita. Bagiku, di sini adalah awal dari segalanya.

Ya, di rumah ini memang awal bagiku dan kamu. Tempat aku menggali kembali energi terbaikku. Tempat lelah tertawarkan. Tempat penat tersembuhkan. Kamu memang cerewet dengan segala aturan rumah tangga. Barang ini harus di sini, barang itu tak boleh bergeser. Kadang aku merasa aturan itu mencekikku. Riuh di rumah kadang membuatku rindu kesendirianku.

Tapi ternyata, justru di kesendirian saat ini, aku sangat merindukan keriuhan itu. Di jidatku tak boleh kutuliskan ”Jangan ganggu aku”, karena memang kamu atau kalian di rumah itu bukan gangguan.

Tak seberapa penting angka setelah 1, 2, 3 dan seterusnya. Karena dari nol lah semua bermula. Terima kasih cinta, sudah mengingatkanku titik awal itu. Bukankah pantai akan kelihatan indah karena memang ada riak dan gelombang.


Saat-saat menuju ke fitri, Agustus 2009

Jumat, 21 Agustus 2009

Simbok


“Mbak, maaf kita tidak jadi ketemu. Aku mau pulang, ketemu simbokku,” suara di ujung telepon itu menjawab konfirmasiku untuk janji bertemu sore itu. Aku mengiyakan dan berjanji untuk ketemu usai akhir pekan nanti.

Kembali ke simbok, buat temanku adalah kembali kekehangatan. Kembali menjadi diri sendiri dan kembali menjadi yang selalu menakjudkan di mata sang ibu.

Seorang teman yang lain dengan bangga memajang foto mamaknya di fesbuk. Tulisnya: ”Ini mamak mertuaku. Datang dari ujung Kalimantan. Aku bangga memiliki mamak seperti dia. Sangat anggun.” Ia begitu bangga dengan mamak mertuanya. Mamak yang jauh dari polesan metropolis, tapi begitu anggun dan sophisticated, menurutnya.

Simbok, emak, mamak – panggilan jadul, tapi eksotis bagiku.

Jujur, sekali atau sesekali dalam paruh umur kita, pasti pernah merasa sangat terganggu dengan perhatian ibu. Tidak saya, tak juga Anda. Tapi kita. Ketidaknyamanan komunikasi dengan ibu, entah ibu kandung, ibu sambung atau ibu mertua.

Kebawelan ibu kadang membuat kita risi dan rasanya ingin pergi. Tak leluasa menentukan keputusan, tak bebas membuat pilihan. Terlebih dengan ibu yang powerfull, rasanya keputusan kita tidak ada artinya.

Saya sadar, komunikasi tidak selamanya mudah, meski itu dengan seorang ibu.

”kenapa ingin pulang ke simbok, Mbak?” tanyaku.
”Hanya dia yang selalu membuat aku menjadi seseorang yang istimewa. Apapun yang aku ceritakan, simbok akan menanggapi seolah-olah aku yang paling hebat di dunia. Respon simbok selalu sama, dari dulu,” ujar teman saya.

”Sampai saat ini, simbok selalu begitu,” ujarnya. ”Padahal aku tahu, yang aku lakukan hanya hal biasa saja, mungkin malah tidak ada artinya,” tambahnya.

Kawan lain menimpali: ”Hubunganku dengan ibu justru lebih baik ketika ibu sudah tiada.
Ibu memang sudah pergi. Tapi dia meninggalkan sejarah yang kami jalani hingga saat ini. Sebuah jangkar yang tidak dapat diambil oleh siapapun, lanjutnya.

Sementara buat aku: Ibu adalah perpustakaan pertamaku.


Saat malam panjang sendirian di Jakarta. Agustus 2009

Minggu, 16 Agustus 2009

Hening


Izinkah aku menulis tentang kesendirian. Mungkin ini adalah saat yang dibenci, juga oleh diriku. Tapi bisa jadi, ini adalah rasa yang paling dicari, oleh mereka yang hidupnya selalu bergemuruh.

Saat sepi menyergap diriku, aku menerimanya dengan terbuka. Aku sadar dengan pilihanku, pilihan untuk merasakan kesendirian. Meski kadang hidupku begitu bergemuruh, dan menolaki kesunyian.

Sendiri, buatku bukan jeda. Ia adalah keheningan panjang yang sangat nyaman. Mungkin ia seperti dinihari, ketika kau dan aku tak bisa memejamkan mata. Ketika kita mendaraskan doa, atau masuk dalam hening di denting waktu. Saat aku melupakan kesendirian, atau justru masukinya.

Izinkan saya menulis tentang gelap. Dinihari adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir. Tapi di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi. Justru saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang terang.” Agaknya pada diniharilah gelap adalah sebuah ajektif bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kelebihan: gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya; ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya.

Ah, aku ngelantur ya.
Aku cuma ingin bilang, itulah nikmat. Menggelisahkan, tetapi membuatku sangat nyaman. Meski kadang dalam otak kecilku memberontaki, tetapi aku sadar aku justru menawan diriku di sini.

Dalam hening dinihari, aku mempunyai banyak waktu untuk bicara dengan diriku sendiri. Dan bicara denganmu, kalau kau merasakan itu.

Kamis, 13 Agustus 2009

Harapan


Panggung di Jakarta tidak pernah habis cerita. Panggung di sini adalah mall atau pusat perbelanjaan. Dalam gemerlap mandi cahaya, saya bisa menjadi siapa saja.

Di mall pula, sihir dilakukan. Rasionalitas dipojokjauhkan. Masih jelas tergambar ketika sale 70% sandal gambar buaya di Jakarta membuat orang rela antri berjam-jam untuk mendapatkannya. Berjan-jam! Meninggalkan pekerjaaan, meninggalkan anak dan urusan penting lainnya. Makan tidak makan yang penting dapat sandal gambar buaya.

Jadi ingat, dulu saya juga punya dogma yang sama: kalau sale dan tidak beli, rasanya dosa. Kapan lagi kalau bukan sekarang.

Saya belanja, maka saya ada – emo ergo sum. Cocok banget. Aku gitu lho, kalau tidak punya barang bermerk, apa kata dunia. Begitu kata di sudut diri kita.

Belanja tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan pokok. Konsumerisme sudah mengubah dari konsumsi yang seperlunya menjadi konsumsi yang mengada-ada.

Motivasi belanja tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan dasariah, tetapi sebagai pemenuhan identitas.

Manusia tidak lagi membeli barang dan jasa, tetapi merk. “Di dalam perusahaan kami membuat kosmetik, di dalam toko kami menjual harapan,” ujar Charles Parson, seorang CEO.

Jadi harapan itulah yang diburu. Berharap seperti seleb, berharap menjadi manusia kota kalau kita berhasil membeli merk. Harapan inilah imaji ideal kita. Mall menjual, kita membeli.

Konsumerisme menawarkan kesempatan dan pengalaman. Dan itulah yang kita beli. Tindakan membeli ini yang menimbulkan kepuasan dalam diri kita, tak laki tak perempuan.

Ah, Decartes pasti tertawa kalau melihatnya.


Emmy Kuswandari, Jakarta Agustus 2009

Di sela-sela training CRS Forum.

Timbangan


Sayang,
Aku tahu, kau bangga dipuji atasanmu. Kau pun bahagia karena kenaikan gaji itu. Syukuran kemarin untuk merayakan promosimu. Wah, hebat ya. Dalam karir, makin tinggi, makin besar gaji, makin ok. Melejit. Makin pesat makin baik.

Begitu juga temanmu yang jadi pengusaha atau pedagang. Makin banyak tender, makin girang. Yang jadi pedagang pun begitu. Makin banyak untung, makin senang. Makin laris, makin manis.

Begitu ya dalam pekerjaan.

Lalu, suatu malam kutanya: bagaimana dengan peranmu di keluarga? Apakah kau menginginkan sayap agar terbang lebih tinggi? Kamu diam. Tak menjawab.

Kalau kau terbang, itu artinya kau menjauh. Tak terjangkau. Tak tersentuh. Meski tanpa kau sadari sering begitu. Karena rapat, karena tugas luar kota, kau jadi jauh. Meski kau akan bilang: “Sayang, semua demi kita. Demi keluarga.” Demi pekerjaan, kamu akan bilang begitu.

Aku hanya takut, kami akan lupa bagaimana bentuk senyummu. Bagaimana aroma tubuhmu.

Aku tak ingin kamu terbang makin tinggi untuk peranmu di keluarga. Yang aku ingin: justru makin dalam, makin dalam dan menukik. Di kedalaman hati kami.

Berbagi peran. Berbagi tanggung jawab. Apa kau tahu, kemarin anak kita, mogok tak mau sekolah. Apa kau tahu, celana panjang anakmu sudah jadi ¾? Keberhasilanmu tak kami ukur dengan dengan skala tinggi dan makin tinggi. Tapi justru bagaimana kau makin dalam, masuk dalam relung keluargamu ini.

Aku ingin, kau menikmati peran ini. Tempat kita kembali berenerji. Tempat kita bisa saling menyemai.

Jadi, maukah kau makin dalam menikmati peran ini, cinta?

Emmy Kuswandari, Jakarta Agustus 2009

Selasa, 11 Agustus 2009

Odol


Niatan saya menuliskan hal-hal sederhana berangkat dari keinginan berbagi saja. Tidak ada yang lebih. Makin berbagi, saya makin kaya. Kaya teman, kaya doa, kaya ide.

Lalu ada satu dua yang bilang: “Bu, saya suka tulisannya.” Saya pun manggut-manggut saja. Toh kalau ada rona malu, partner bicara saya tak akan tahu perubahan di muka saya. Biasanya saya akan menawarkan balik agar siapapun yang memberi apresiasi terhadap tulisan itu berbagi hal yang sama. Menuliskan cerita-cerita sederhana di kehidupan mereka.

Jawabnya?
Saya pengen, tapi...
Mau sih, cuma....
Tidak bisa nulis
Tidak ada waktu
Suka bacanya aja
Tidak ada yang bisa dibagi,
Mau share apa ya?
Blank.
Tidak ada ide!

Saya senyum-senyum saja. Kalau diurutkan, bisa lebih panjang lagi alasannya. Yang paling sering adalah tidak ada ide. Padahal, ide itu seperti udara. Ada di mana-mana. Tapi seringkali kita mengabaikannya. Kalau kejepit suasana, baru teriak-teriak: siapa yang jual ide? Dibeli: sebuah ide dengan harga mahal.

Alam raya ini luar biasa. Ide yang tak pernah habis digali. Keindahan yang tak pernah kering dinikmati. Rumah yang tak pernah sepi ditinggali. Sahabat yang setia memberi energi. Anda pasti setuju.

Kalau nunggu ide datang persiapannya: kopi, musik, suasana tenang, punggung yang tak mau tegak, gelisah yang tak mau pergi, rambut yang diacak, mulut yang seperti terkunci. Yang ada: seandainya...seandainya...seandainya. Ah, kayak menunggu godot saja.

Benarkah ide itu jauh dan tersembunyi? Tidak bisa dijangkau dan tak mungkin direngkuh? Tidak bisa hadir, kini dan saat ini?

Aku tidak pernah pelit. Saya yakin kamu juga. Lebih-lebih alam. Alam tidak pelit. Ada cahaya, ada suara, ada tangis, ada buncah tawa, ada aku, kamu dan kita.

Benarkah kita tanpa ide? Buka laptop, ide sudah dipanen. Keluar rumah, ide sudah bermunculan. Ketemu orang, benih-benih ide bersemai. Gendong anak, lahir ide. Sambil masak, ide pun matang.

Tapi seringkali kita sibuk dengan alasan. Dan lupa bahwa otak kita canggih dan sangat pintar. Jadi percaya saja pada kemampuan kita. Ini tidak hanya untuk menulis. Aplikasinya bisa ke: ide masak, ide marketing, ide kerjaan, ide olah raga, ide perkawanan, ide jejaring.

Kata temanku, ide itu gratis. Orang cerdas memetiknya secara gratis. Sekaligus menanam, supaya orang lain kebagian pula. Alam raya menyediakannya secara melimpah. Ide melimpah, tapi kreator sedikit.

Jadi, apakah ide itu muncul secepat kita memencet odol (pasta gigi)? Anda tahu jawabnya. Mari panen ide, berkarya dan nyatakan.


Selamat menuai ide.