Jumat, 01 Desember 2017

Rasa yang Membunuhmu



Pernahkah kamu khawatir anakmu tak sepandai teman-temannya?
Atau khawatir, tumbuhnya tak sempurna. Terlambat bicara, telat jalan, dan sebagainya.

Pernahkah khawatirmu menggelisahkan tidurmu karena takut masa depan seperti apa yang akan anakmu rasakan nanti?

Jujur, rasa takut ini kadang menghantui hari-hari kita. Demi masa depan yang lebih baik, kita mencambuknya dengan berbagai kegiatan.

"Semua demi masa depan kamu. Tidak ada orang tua yang punya maksud jahat untuk anaknya," begitu sering kita dengar argumennya.

Demi kehidupan yang lebih baik, kita mengatur jam demi jam kegembiraannya. Hingga anak lupa bagaimana bergembira atas dirinya sendiri. Bahkan anak tak tahu, ia berhak gembira yang tak direkayasa.
Kita, orang tua dan bukan Tuhan Yang Maha Esa.

Lepaskan...lepaskan kekhawatiranmu ttg masa depan anakmu. Belajar melepas ikhlas anak panahmu.

Biarkan ia, mengikuti air, angin dan cahaya hidupnya.

Selasa, 19 April 2016

Dunia pada Selembar Kertas



Terberkatikah Cai Lun  atau juga yang  dikenal dengan nama Ts’ai Lun.  Hidup di masa  Dinasti Han abad ke 1–2 Masehi. Karena dialah kita mengenal surat cinta. Begitu juga ijazah SD dan akta nikah. Tertera pada selembar kertas dan bukan lempengan timah atau keramik yang mudah pecah.

Bayangkan, ketika akta pernikahan dari keramik dan retak dimakan zaman, lalu potongannya disambungkan dengan retakan yang lain, maka nama pasangan kita pun akan berubah saat itu juga.

Apa jadinya, kalau kita harus membawa sabak kemana-mana hingga saat ini. Berapa banyak sabak untuk bisa menikmati cerita panjang seperti novel.






Maka kesempatan jalan-jalan ke pabrik kertas menjadi kegembiaraan tersendiri pagi itu. PT Pindo Deli Pulp and Papers Mill di Karawang. Hampir 2 jam perjalanan lancar dari Jakarta.

Rerimbunan acacia crassicarpa tegak berdiri. Langsing, ramping dan berjejer dengan indahnya. Ini adalah bahan baku utama untuk pembuatan  kertas. Ada jenis yang lain. Mangium ataupun eucalyptus. Dan beruntungnya Indonesia dengan sinar mataharinya yang berlimpah. Bahan baku ini bisa dipanen dalam waktu yang cepat, 5-6 tahun saja. Negara dengan berbagai iklim dingin harus sabar menanti panenannya, bisa 15-20 tahun.

Tegakkan pohon ini akan dicincang dan masuk ke dalam mesin, menjadi bubur. Dengan sentuhan bahan-bahan kimia, jadilah kertas dengan berbagai kegunaan dan ukuran. “Kertas kita tersertifikasi halal, dan aman digunakan,” ujar Jumali, dari Pindo Deli yang menjelaskan siang itu.

Kantuk yang semula datang kala penjelasan proses, menjadi hilang ketika musik jingkrak hinggap di telinga. Cara cerdas perempuan berjilbab yang memandu kami siang itu, menggantikan Jumali. Mata pun jadi nanar melihat video proses produksi kertas diputar. Sesekali ditimpal suara perempuan berjilbab tadi.

“kita akan tour melihat proses sebenarnya. Tapi ada aturan tidak boleh memotret di area produksi. Semua proses dikendalikan oleh sensor-sensor yang dipantau lewat computer,” jelasnya. Sensor yang sensitif akan menolak kilatan cahaya yang tak semestinya. “Proses bisa terhenti karena itu,” tambahnya.

Meski pun begitu, legalah kami, ketika tetap ada kesempatan berfoto di dekat jumbo roll kertas. Bukankah update status dan pamer foto dengan objek tak lazim tetap harus dilakukan oleh kaum narsis seperti kami. Hehehheheh ……….




Bau pabrik, selalu khas. Apapun produksinya. Beberapa akan mengatakan bau dolar. Beberapa akan mengatakan bau karena panas yang menguar. Entahlah kenapa bau khas itu yang saya suka. Di luar itu, melihat pabrik, laksana melihat Negara. Sangat  tertata. Berjalanlah di sebelah kiri untuk naik dan turun di sebelah kanan. Jalankan kendaraan 30 meter perjam. Tidak boleh merokok. Harus berhelm. Memakai masker. Penutup telinga. Berjalan dalam line kuning.

Tanpa sadar kami sedang menata informasi dalam pikiran kami. Bahan baku kertas itu dari Hutan Tanaman Industri dan bukan dari hutan alam. Kayu yang digunakan diameternya kecil dan bukan log yang besar.

Saya juga sedang mengolah informasi dalam otak kecil ini, bila industri pulp dan merupakan industri nasional yang sangat potensial, tentu dia tidak boleh mati. Bayangkan,  saat ini Industri pulp nasional menempati peringkat ke-9 dunia dengan kapasitas mesin terpasang 8 juta ton/tahun.  Sementara untuk industri kertas nasional menempati peringkat ke-6 dunia dgn kapasitas mesin terpasang 13 juta ton/tahun.



Namun sayangnya, konsumsi per kapita kertas di Indonesia masih sangat rendah: 32,6 kg. Sementara USA 324 kg, Jepang 242 kg, dan Malaysia 106 kg.  Bandingkan lagi konsumsi per karpita kertas negara lain: Belgia 295 kg, Kanada 250 kg, Singapura 180 kg.  Saat ini kebutuhan kertas dunia sekitar 394 juta ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020.  Demand kertas dunia tersebut potensi Indonesia untuk meningkatkan ekspor pulp & kertas dengan unggulnya sumber daya alam kita.



“Mbak, kenapa sih konsumsi kertas kita rendah? Bukankah budaya baca kita cukup baik?” tanya teman dudukku sore itu. Dan disinilah jebakan betmen itu mulai lagi, daya baca rendah, konsumsi kertas lemah. Ahhh…….


Saya harus segera kembali ke Jakarta. Berburu senja. Sambil menebak wajah Ts’ai Lun seperti apa dalam pendar warna jingga.

 

 


 

Emmy Kuswandari, 19 April 2016

Pic Note: Jaka Anindita, Eriko and friends

 

 

Sabtu, 27 Februari 2016

Seblak


Nanar aku menatap kamu. Aneh. Asing. Menyelidik.
Itu adalah saat kita pertama kali bertemu. Merona merah tampakmu. Tajam aku mencium baumu. Kusentuh dan kau liat mengaduh.

Kalau kau perawan diambang matang, tentulah banyak yang ingin menggodaimu. Dan itulah kamu. Tak perlu menunggu mereka menggodamu. Justru kamu yang datang menantang. Menyumbui indra rasa mereka. Ah, kau senang melihat orang bernafsu ingin menyentuhmu. Dan kau akan terbahak, begitu mereka tersedak oleh hawa cintamu.

Kau terbahak dan terbahak. "Tambah lagi pedasnya? Kurang pedas cumbuanku?" rayumu. Dan mereka hanya mengangguk pasrah dengan racunmu.

Aku hanya  menyentuh lembut dirimu awal ketemu dulu. Maaf, aku tak terbiasa dengan tampilan dan rasamu. Aneh. Dan tajam baumu. Tapi....entahlah.  Sungguh aku tidak mengenalmu. Buatku aneh, bercinta dan tak mengenal.

Tapi justru keanehan dan tajam baumu terus mengikutiku. Kemanapun. Seolah kamu pengen bilang: Sini cumbu aku.  Ahhh.....jauhlah. Aku tak mengenalmu.

Dan baumu bagai bayangan dirimu. Mengikuti dan melekatiku.

Sudah!

Aku kapok kamu terus menghantuiku. Iya aku sentuh kamu. Dan aku menyukaimu. Puas?

Dan sekarang aku yang tergila-gila padamu.









Rabu, 09 September 2009

Beban

“Papa sih genit pakai menolong gadis tadi. Gara-gara papa sih kita jadi telat. Akibatnya kita jadi tidak bisa ketemu Pak Anu yang super penting itu. Kan susah cari waktu lagi. Coba kalau kita langsung jalan, pasti ada orang lain yang menolong dan kita tidak telat,” protes seorang istri. Masih panjang protes yang disampaikannya.

”Aku sudah meninggalkan gadis cantik tadi berjam-jam yang lalu, ketika usai kutolong. Tetapi kenapa kamu masih ”membawa” dia ke sini,” ujar sang suami.

Ini petikan sederhana dalam keseharian kita. Seringkali kita masih mengungkit-ungkit kejadian tidak menyenangkan di masa lalu dan menghadirkannya kembali di ruang keluarga, di kantor atau di cafe-cafe. Atau menyimpannya hingga menjadi bangkai di pikiran kita.

”Saya tidak bahagia. Kesalahannya di masa lalu tidak bisa dimaafkan. Gara-gara dia hidup saya tidak bahagia. Sakit rasanya,” ujar seorang teman. Rasa sakit ini sudah ia simpan sejak belasan tahun lalu, tapi ia masih membawa beban itu hingga kini.

Jamak bukan kita mendengar keluhan seperti ini?

Sama seperti sang istri atau kawan tadi, seringkali kita tidak mau melepaskan saja beban masa lalu itu. Kita tetap membawanya kemana pun kita pergi.

Padahal, kita hanya perlu meninggalkan ”gadis cantik” atau beban itu usai menolongnya atau memaafkannya, agar penderitaan segera berlalu. Tidak ada gunanya kita terus merasa sakit dengan hal-hal yang sesungguhnya sudah selesai.


Emmy Kuswandari

Selasa, 08 September 2009

Inspeksi

Saya selalu suka akhir pekan. Ini saat my me time, entah di Jakarta atau Yogya. Saat internet nyala sepanjang waktu. Saat saya bisa menyusur jalan dengan kekasih kecilku. Saat saya tak henti main tebak-tebakan atau melakukan hal-hal konyol berdua. Dan saat saya bisa menari sepanjang waktu dengan Bhumyku. Gayanya? Muter-muter seperti pesawat terbang, megal-megol tidak karuan atau dansa a la Bhumy: kaki kecilnya ditumpangkan di atas kaki saya, berpegangan tangan dan jalan seperti robot. Akhir pekan memang selalu lain rasanya.

Saya yakin, di hari kerja, Anda lebih akrab dengan PDA, agenda, jadwal meeting, memeriksa pekerjaan, bertemu dengan ABCDE, balik meeting lagi, kasih instruksi dan lain sebagainya. Bergerak, bergerak, memeriksa, merencakan, evaluasi.

Kita memeriksa anak buah dan mendapai mereka kerja tidak maksimal
Memeriksa klien dan menemukan banyak ketidakberesan
Memeriksa kontrak dan menemukan banyak kecurangan
Memeriksa persiapan even dan menemukan banyak hal yang tidak memuaskan
Memeriksa PR anak dan mendapati banyak nilai mengecewakan di mata kita
Memeriksa baju untuk esok dan mendapati ketidakserasian
Memeriksa mawar tersayang dan melihatnya layu di pot

Begitu sibuknya waktu demi waktu kila lakukan untuk memeriksa segala sesuatu di luar diri kita.

Tapi seberapa sering kita bertanya, sudahkah kita memeriksa ke dalam diri kita sendiri? Sudahkah hari ini kita memeriksa kemana hidup akan melangkah.
Sudahkah memeriksa hati dan pikiran kita?
Sudah cukup positifkan hari ini?

Yang jamak terjadi, dalam hidup kita disibukkan dengan memeriksa orang lain, hal lain, pekerjaan lain. Dan lupa memeriksa diri kita sendiri. Sampai akhirnya lupa arah dan mendapati diri kita hampir tenggelam dalam keputusasaan. Padahal kata sang bijak: Do not expect until you inspect.

Emmy Kuswandari, usai weekend yang menyenangkan di Jakarta.

Energi

Hidup di Jakarta membuat saya harus flesibel. Menerobos kemacetan dengan ojek atau bergelantungan di Bus Trans Jakarta. Saat paling nyaman tentu di sejuknya taksi ber AC. Tapi apapun saya nikmati. Termasuk keliling Jakarta kota tua dengan ojek sepeda.

Pagi itu saya memutuskan naik taksi. Begitu meletakkan pantat, sopir taksi dengan pet Tino Sidin itu sudah mengeluhkan pendapatnnya yang tidak mencapai target selama puasa ini. Dirinya baru saja sembuh dari sakit selama beberapa waktu. Anak-anaknya merengek baju baru dan kue istimewa di hari raya. ”Saya sih hanya bisa janji, karena pasti tidak akan dapat THR tahun ini,” ujarnya. Perusahaannya menerapkan quota tertentu untuk THR.

Ia yakin tidak bisa memenuhi janji itu. ”Untuk makan saja susah,” tambahnya. Peniti emas, penghargaan masa pengabdiannya dijualnya seharga Rp 400.000. ”Daripada dipajang malah ilang, mending dijadikan uang,”alasannya. Cerita ketidakberuntungannya masih panjang. Perjalanan 30 menit penuh dengan keluhan. Mungkin ia lega.

Lalu mata saya tertumbuk pada ”manusia gerobak” , tuna wisma yang hanya memiliki gerobak sebagai tempat tinggal dan mencari nafkah. Kalau malam, di gerobak itu pula, kaki-kaki lelah ditumpangkan. Di gerobak-gerobak yang lain, anak-anak kecil mencari secuil kehangatan di dalamnya.

Lelaki pembawa gerobak itu tertawa lepas. Perempuan - mungkin istrinya - menyumbang senyuman. Kardus, botol bekas minuman mineral dan plastik itu jadi rezekinya. Artinya: secangkir beras untuk berdua bakal didapatnya. Toh hidup hanya perlu secangkir beras setiap harinya.

Ekor mata sopir taksi pun merekam adegan itu. ”Bahagia itu gampang ya Pak. Hanya punya kardus, botol bekas dan plastik rombeng pun sudah membuat mereka tertawa lebar,” ujar saya. Lalu, jeda panjang mengantarkan saya ke tujuan. Ketika turun, sopir itu pun berujar: ”Terima kasih, Bu.” Matanya sendu, mungkin malu yang dicampur galau.

Dalam hidup kita sepanjang 30, 40 bahkan 50 tahun ini, apa saja sih isinya?

Mungkin kita lebih fokus pada:
• Keluhan
• Menyalahkan
• Memaki
• Sumpah serapah
• Menyebar isu
• Memanas-manasi
• Pemicu masalah
• Ketakutan
• Merasa paling menderita
• Reaktif
• Menurunkan motivasi

Sepanjang hidup. Lalu kita pun menjadi penyerap energi (negatif). Hasilnya? Tabungan negatiflah yang lebih besar kita dapatkan. Plus bunga-bunganya. Menderita banget tidak sih? Hidup sekali saja kok menderita.

Daripada merepet dengan keluhan dan menjadi penyerap energi (negatif) mending menjadi pemancar energi (positif). Apa sih ciri-cirinya:

• Fokus pada tujuan
• Memberi tanpa syarat
• Bertanggung jawab
• Dapat diandalkan
• Pemecah masalah
• Memiliki motivasi untuk berkembang
• Mentalitas pemberi
• Proaktif
• Menciptakan
• Bicara lebih baik dan tentang hal baik dengan orang lain
• Bahagia


Lebih indah mana? Hayooo mau pilih energy sucker atau energy giver? Cinta adalah mata iar motivasi yangmengalirkan semangat indahnya kehidupan.

Emmy Kuswandari
Menjelang berbuka dengan teman-teman sambil bercerita tentang writing is a lifestyle.

Jakarta, September 2009

Minggu, 06 September 2009

Kencan Istimewa

Sabtu lalu kencan saya sangat istimewa. Komplit pakai telor dan penuh cinta. Daripada nanti saya ditanya siapa lelaki beruntung itu lebih baik saya sebutkan namanya: Agus Sufriyadi (ada di FB dan link saya). Masih muda, baru 23 tahun. Brondong booooo.....

Agus melebihi lelaki manapun yang pernah saya kenal selama ini. Tingginya proporsional. Hari itu ia memakai celana kain warna hitam dan kaos tiga warna – biru putih dan hitam. Rambutnya rapi. Di telinganya terselip earphone. Keren. Mirip Paspampres.

Dia datang telat ketika kami, teman-teman dari berbagai komunitas, sedang belajar tentang No Limits. Begitu ia membuka pintu, saya tahu lelaki itu sangat percaya diri. Dan benar dugaan saya. Ia memang sangat percaya diri. Ia pernah ke Hongkong menyemangati saudara-saudara kita yang bekerja sebagai TKI di sana. Agus sukses berwirausaha. Tempat dagangnya ada di beberapa tempat.

Di mata saya, Agus memang sangat istimewa. Saya masih sering tidak percaya diri ketika salah kostum atau berada di lingkungan yang baru. Tetapi ia tidak. Begitu cair Agus membaur bersama kami. Meski untuk bicara, ia sedikit mengalami ketersendatan. Perlu bantuan seorang kawan untuk melengkapi atau menjelaskan kata-kata Agus.

Earphone itu adalah alat bantu dengar yang ia pakai sepanjang hidupnya, hingga saat ini. Ya, Agus menderita Celebral Palsy serta mengalami gangguan pendengaran.

Tapi begitu bersemangatnya ia tentang hidup. Kami mengundangnya sebagai pembicara, tetapi ia malah larut menjadi peserta seperti kami. Dan hatinya....hemmm...penuh dengan cinta, toleransi dan kepedulian.

Saat kami menggambar tentang cita-cita, hambatan dan hidup yang kami inginkan ke depan, ia menggambar tentang dirinya, satu temannya yang buta dan satu yang tuna rungu. Lalu ia melengkapi gambarnya dengan tulisan ”Allah” dalam huruf Arab. Ia menggambarkan betapa ia cinta dengan tuhan dan ingin hidup di jalannya.

Sampai hari ini ”kencan” dengan Agus begitu membekas. Menorehkan catatan di hati. Agus begitu bahagia dan bersyukur terhadap segala kekurangnnya. Tapi kenapa kita justru seringkali mengutuki kelebihan kita? Di tengah keterbatasannya, Agus “menumbuhkan” tangan, kaki, mata dan pendengaran bagi teman-temannya, tapi kenapa kita seringkali justru “memangkas” segala kelebihan teman-teman kita, hanya supaya biar kita sendiri yang eksis dan menonjol.

Gus, tarima kasih ya. Kencan kemarin begitu menyemangati saya. Terima kasih boleh bersalaman, mendengarkan kata-katamu dan menikmati gambarmu. Buatku, kamu adalah gambaran kehidupan yang sangat indah.

Salam hormatku untuk ayah ibumu, yang mengajari kamu tentang hidup, tentang cinta dan tentang rasa.

Kamu membuatku kembali mensyukuri semuanya. Bukankah rasa syukur merupakan ungkapan emosi yang paling kuat? Yang mampu membersihkan racun-racun yang dihasilkan oleh rasa takut, tidak nyaman dan marah.

Terima kasih ya Gus.