Senin, 19 Februari 2018
Menghitung Syukur
Kata itu mempengaruhi alam semesta bekerja. Niatan kita tepatnya.
"Blessed Monday" kata yang biasa di timeline Senin. Tapi saya sungguh-sungguh meyakininya.
Keluar apartemen dan saya bingung mencari di mana mobil saya. Setelah putar-putar nyari saya baru sadar. Ternyata mobil tertinggal di kantor sejak Minggu lalu. Jadilah komuter mengantar saya lebih cepat ke kantor. Lupa sesaat ternyata ada manfaatnya.
Turun dari komuter, Abang sudah menanti. Babang ojek. "Enak Pak motornya" kata saya membuka sapa. "Iya Bu. Karena sejauh pengamatan saya, pengguna ojek itu perempuan. Motor seperti ini cocok. Tidak terlalu tinggi," jelasnya. Tukang ojek pun bekerja dengan pengamatan dan analisa.
Jadilah kami naik motor berdua. Romantis. Apalagi ditemani gerimis tipis.
Saat gerimis ditemani kain manis Valentine's gift dari Mbak Cantik Monica Kumalasari.
Oh ya, dari rumah sempat dibekali mbak, keripik pisang kepok dari Ciawi. Enak. Sekaligus juga membuat roda ekonominya bergulir lebih kencang. Dia marketing yang hebat.
Nah, siang ada berkat lain lagi. Ketemu Bang Fikar Rizky Mohammad. Umurnya masih 20 an. Beda tipis lah usianya sama saya. Kami berbincang panjang lebar. 1.5 jam lebih. Darinya saya belajar. Yang paling utama adalah belajar melihat segala sesuatunya dari sudut pandang positif. Baik dari kata, rencana kerja dan yang paling utama: apa karya kita yang bermanfaat untuk sesama. Ia menegaskan, karya adalah yang membedakan kita dengan yang lainnya.
Di usia yang masih belia, dia punya gagasan-gagasan besar untuk Indonesia. Belajar fisika dan bisnis, memudahkan ia mengelola dunia yang kompleks menjadi lebih sederhana. Ia ingin, kelimpahan Indonesia akan matahari misalnya, benar-benar memberdayakan masyarakatnya.
Hari ini ditutup dengan coklat falling in love ditraktir jeng Eka Wijayanti
See.....betapa beruntungnya saya.
Menghitung syukur ini justru saya pelajari dari Benaeng Taruwara saat SD. Tiap hari ia menuliskan rasa syukurnya dalam sebuah buku. Kadang hanya satu ia tulis kadang banyak.
Ya Tuhan terima kasih saya masih bernafas.
Ya Tuhan terima kasih makanan ini enak.
Tuhan terima kasih karena Bunda baik.
Terima kasih Tuhan aku masih hidup.
Begitu tulisnya. Dan selalu diulang-ulang sesuai dengan nikmat yang ia syukuri.
Sudahkah kau syukuri nikmat hari ini? Siapa tahu itu membuatmu tak terlalu riuh dengan keluhan.
Selasa, 02 Januari 2018
Sedekah Ilmu
Tahu goreng pagi ini berbeda rasa. Meski dari penjual yang sama, di belakang kantor. Padahal, demi Tuhan, ngantor pertama saya ingin mulai makan yang sehat. Diet canggih seperti orang-orang. Resolusi awal tahun. Dan hancur di hari pertama.
Ada kriuk renyah dari setiap potongan tahu pagi ini. “Buku apa yang paling akhir dibaca?” Tanya Lutfie Syaukani. Pertanyaan yang garing. Karena kita lebih banyak membaca status orang di sosial media. Sejujurnya itu yang terjadi dalam keseharian kita saat ini.
Dan, ternyata benar dugaku. Sebagian kami kesulitan untuk mengingat kembali buku terakhir yang kami baca. Justru ingatan yang membeku tentang buku yang kami baca ini, menjadi pintu pembuka pelajaran kami pagi ini.
Kami tengah belajar menulis. Sederhana. Setiap hari kami berkutat dengan sekian puluh abjad. Entah untuk say halo, atau menulis sedikit lebih serius. Smartphone memudahkan kita berekspresi. “Jangan membuat pembaca atau bos kita perih duluan membaca tulisan kita. Apa dosanya, sehingga pagi-pagi harus membaca tulisan yang buruk,” ujar Lutfie. Kami hanya tertawa. Mesti mengiyakan dalam hati. Tulisan yang buruk memang sangat mengesalkan. Kita dengan mudah akan menghakimi penulisnya bodoh.
Menghindari tulisan yang buruk, penting bagi kita memiliki pengetahuan menulis. Syaukani mengingatkan hal ini. Ada empat alasan kenapa kita menulis. Pertama, untuk mengeskpresikan diri seperti Anne Frank dan Soe Hok Gie. Atau, untuk membangun nama atau reputasi, seperti Andre Hirata atau penulis Harry Potter, J. K. Rowling. “Bisa juga karena kita ingin mengubah dunia. Jangan berpikir dunia yang luas. Dunia sekitar kita saja,” ujar Lutfie. Ia mencontohkan Stephen Hawking yang menulis A Brief History of Time. Atau Rachel Carson dengan Silent Spring yang gelisah ketika dia tak lagi mendengar kicau burung di daerah yang dulu riuh dengan cuitannya. Karya yang terbit pada 1962 itu fokus pada efek pestisida DDT (dichloro-diphenil-trichloro- ethane) terhadap kehidupan liar dan pengaruh jangka panjang pada rantai makanan. Bacalah, sudah ada edisi Indonesianya.
Atau keempat, kita menulis karena tuntutan pekerjaan. Membuat laporan misalnya. “Tapi ingat, jangan membuat bosmu perih dulu ya,” ujarnya.
Di layar depan lalu muncul gambar Pramoedya Ananta Toer. Kalau aku boleh memilih, hanya ada dua lelaki seksi sepanjang hidupku. Pram dan Sindhunata. Nambah lagi satu, EKa Kurniawan, dengan Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau. Belum nambah lagi deretan lelaki dalam imajiku ini. Pram pernah bilang: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Siapa coba yang tidak akan klepek-klepek dengan ungkapan ini? “Menulis itu seksi,” lanjut Lutfie. Mungkin juga pacarnya banyak. Lalu kenapa kau tak mulai menulis?
Kamu tak tanya kenapa aku menulis? Aku hanya ingin menghidupkan abjad. Lalu apakah pacarku banyak?
Ah sudah dulu ya. Sudah siang. Makan siang menanti. Aku lanjut lagi nanti.
Senin, 01 Januari 2018
ANAK
Merawat pertemanan kadang memang perlu dipaksakan. Memaksakan langkah untuk ketemu. Menggiring waktu. Hanya untuk bisa bertukar kabar.
Kalau dipikir, kami tentu malas menembus macetnya Yogya saat libur panjang. Terlebih Alb Agung Kunto Anggoro harus turun Merapi dan melintas Jalan Kaliurang dan Yogya Solo yang ampun-ampunan macetnya.
Kami harus bertemu, sebelum tenggelam dalam kesibukan awal tahun. Sejujurnya, pertemuan kami juga hanya setahun atau dua tahun sekali. Tahun lalu, kami melewatkan malam yang panjang hingga subuh datang. Di ruang pemulasaraan jenazah RS Sanglah. Kunto dan teman-teman De Britto memandikan dan ndandani Kristupa hingga jadi ganteng. "Saiki kowe wes ngganteng Bro. Sugeng tindak," ujar Kunto sambil merapikan tangan Kristupa. Candanya memecah ruang paling sunyi di sudut rumah sakit itu. Juga sudut hati kami yang tiba-tiba sepi. Pertemanan yang menguat menjadi persaudaraan. Menghantarkan Kristupa dalam istirahat panjangnya. Kami berteman sejak 90 an.
Saya dan Kunto, melewati jalan panjang kehidupan. Tapi tak pernah sekalipun menanyakan hidup pribadi masing-masing. Membiarkan ruang dan waktu merawatnya secara alami.
Satu hal yang membuat saya merasa perlu ketemu Kunto. Selalu ada hal baru yang bisa tertanam di hati. Hal lama mungkin, tetapi dengan menceritakan kembali, menjadi baru untuk salah satu diantara kami.
Di pertemuan penghujung tahun kemarin, ia mengingatkan aku tentang menjadi anak. "Anak tetaplah anak bagi orang tuanya. Sampai kapanpun. Sekaya dan semampu apapun kita. Berlakulah tetap sebagai anak terhadap orang tua kita," ujarnya.
Ia mencontohkan, kadang ia justru merengek pada orang tuanya untuk ditraktir makan di luar rumah.
"Ada kebanggan buat orang tua, saat membayar makanan untuk kita. Bercerita pada kasir, dan mengeluarkan uang dari dompet atau saku celananya. Orang tua pasti akan menceritakan dengan bangga tentang anaknya," ujar Kunto saat cahaya di sawah belakang rumah perlahan mulai temaram.
Cerita yang sangat sederhana. Yang ia ceritakan kembali dari sebuah tulisan entah di mana.
Dan cerita ini yang mengoyak kesadaranku, bahwa di umur-umur seperti saat ini kita selalu menanamkan diri untuk balas budi membahagiakan orang tua. Membelikan mereka ini itu, membuatnya nyaman, mengajaknya ke sana dan kemari. Dan banyak lagi. Lalu kita kadang lupa, untuk tetap menjadi anak bagi orang tua kita.
Saat datang berkunjung, melihat ibu repot memasak sesuatu, kita melarangnya. Mbok sudah duduk saja, nanti kita beli makanannya. Atau berpesan, ibu jangan capek-capek.
Kita lupa, menyiapkan makan, membuatkan minum, merapikan tempat tidur ternyata panggilan kenangan yang menyenangkan bagi orang tua kita. Mengingatkannya pada zaman kita masih di bawah pengasuhan penuh orang tua. Orang tua yang ingin selalu memastikan kenyamanan buat kita.
Teringat aku pada teh panas yang sudah disiapkan uti saat aku baru menginjak ruang tengah. Atau jahe panas bikinan Pak Mardi, angkringan sebelah rumah. Kadang dilengkapi dengan dua tiga bungkus sego kucing, mendoan bakar, ceker atau swiwi yang menguar aroma gosong bekas dibakar.
"Udah makan belum, mau makan apa?" Itu selalu yang menjadi pertanyaan utama. Meski sudah cemepak, seringkali aku bilang sudah kenyang. Atau kadang tak menyentuhnya seketika. Teringat ujaran Kunto, menyesal rasanya menolak. Apapun yang tersaji, itu cara orang tua memanggil kembali memori bahagianya.
Sudah bertahun-tahun terjadi, setiap kembali ke Jakarta, Uti selalu membawakan sebungkus nasi, lengkap dengan lauknya. Untuk Benaeng Taruwara. "Pasti lapar turun dari pesawat nanti. Buat dimakan di taksi," pesannya. Pernah, Uti nyusul ke bandara, khusus hanya untuk mengantarkan nasi bungkus yang tertinggal di meja. Dulu, saya sering enggan. Karena toh beli makanan bisa dimana saja. Lebih praktis. Sekarang saya pasrah saja. Dan benar, Bhumy selalu terpanggil lapar begitu pantat menyentuh kursi taksi.
Kakung lebih heboh lagi. Krupuknya dibawa. Mangganya juga. Yang di meja masukin ke tas semua. Itu ada roti di kulkas, bawa aja. Perintahnya. Terlebih kalau Lebaran atau Natal, biasanya ada banyak makanan bertoples-toples di meja. Sudah pasti aku menolak. Karena semua dibelikan justru untuk rumah di Yogya. Persediaan kalau ada yang datang. Atau teman ngemil nonton TV.
Kemarin, ketika semua barang sudah masuk mobil, Kakung bilang, mangga madunya dibawa. Untuk cemilan di jalan. Jadilah aku kupas, potong-potong dan masuk dalam dua tupparware. Ada satu lagi. Sambel. Setiap pulang, saya selalu minta dibuatkan ibu sambel untuk bekal kembali ke Jakarta. Saya paling malas buat sambel di apartemen. Bisa bau seluruh koridor dan membuat orang bersin-bersin. Sampai Jakarta aku tambah dengan kecombrang atau sere. Jadilah setoples sambel beranak jadi dua toples.
Mudah-mudahan, potongan mangga dan sambel ini membuat eyang kakung dan uti bahagia menjalankan perannya sebagai orang tua.
Ada baiknya, stop mengeluh, ketika di kendaraan atau tas kita dijejalkan beragam makanan. Atau bahkan beras hasil panen. Sayur dari kebun. Buah-buahan dari pekarangan. Bukan kita tak mampu beli, tetapi menerima dengan ringan hati siapa tahu kita mampu menggenapi bahagia orang tua kita. Menghapus khawatirkan. Hanya untuk memastikan kita baik-baik saja. Nyaman dan tercukupi.
Mungkin kita pun suatu saat akan menjalankan peran ini. Dengan lebih drama barangkali.
Kalau dipikir, kami tentu malas menembus macetnya Yogya saat libur panjang. Terlebih Alb Agung Kunto Anggoro harus turun Merapi dan melintas Jalan Kaliurang dan Yogya Solo yang ampun-ampunan macetnya.
Kami harus bertemu, sebelum tenggelam dalam kesibukan awal tahun. Sejujurnya, pertemuan kami juga hanya setahun atau dua tahun sekali. Tahun lalu, kami melewatkan malam yang panjang hingga subuh datang. Di ruang pemulasaraan jenazah RS Sanglah. Kunto dan teman-teman De Britto memandikan dan ndandani Kristupa hingga jadi ganteng. "Saiki kowe wes ngganteng Bro. Sugeng tindak," ujar Kunto sambil merapikan tangan Kristupa. Candanya memecah ruang paling sunyi di sudut rumah sakit itu. Juga sudut hati kami yang tiba-tiba sepi. Pertemanan yang menguat menjadi persaudaraan. Menghantarkan Kristupa dalam istirahat panjangnya. Kami berteman sejak 90 an.
Saya dan Kunto, melewati jalan panjang kehidupan. Tapi tak pernah sekalipun menanyakan hidup pribadi masing-masing. Membiarkan ruang dan waktu merawatnya secara alami.
Satu hal yang membuat saya merasa perlu ketemu Kunto. Selalu ada hal baru yang bisa tertanam di hati. Hal lama mungkin, tetapi dengan menceritakan kembali, menjadi baru untuk salah satu diantara kami.
Di pertemuan penghujung tahun kemarin, ia mengingatkan aku tentang menjadi anak. "Anak tetaplah anak bagi orang tuanya. Sampai kapanpun. Sekaya dan semampu apapun kita. Berlakulah tetap sebagai anak terhadap orang tua kita," ujarnya.
Ia mencontohkan, kadang ia justru merengek pada orang tuanya untuk ditraktir makan di luar rumah.
"Ada kebanggan buat orang tua, saat membayar makanan untuk kita. Bercerita pada kasir, dan mengeluarkan uang dari dompet atau saku celananya. Orang tua pasti akan menceritakan dengan bangga tentang anaknya," ujar Kunto saat cahaya di sawah belakang rumah perlahan mulai temaram.
Cerita yang sangat sederhana. Yang ia ceritakan kembali dari sebuah tulisan entah di mana.
Dan cerita ini yang mengoyak kesadaranku, bahwa di umur-umur seperti saat ini kita selalu menanamkan diri untuk balas budi membahagiakan orang tua. Membelikan mereka ini itu, membuatnya nyaman, mengajaknya ke sana dan kemari. Dan banyak lagi. Lalu kita kadang lupa, untuk tetap menjadi anak bagi orang tua kita.
Saat datang berkunjung, melihat ibu repot memasak sesuatu, kita melarangnya. Mbok sudah duduk saja, nanti kita beli makanannya. Atau berpesan, ibu jangan capek-capek.
Kita lupa, menyiapkan makan, membuatkan minum, merapikan tempat tidur ternyata panggilan kenangan yang menyenangkan bagi orang tua kita. Mengingatkannya pada zaman kita masih di bawah pengasuhan penuh orang tua. Orang tua yang ingin selalu memastikan kenyamanan buat kita.
Teringat aku pada teh panas yang sudah disiapkan uti saat aku baru menginjak ruang tengah. Atau jahe panas bikinan Pak Mardi, angkringan sebelah rumah. Kadang dilengkapi dengan dua tiga bungkus sego kucing, mendoan bakar, ceker atau swiwi yang menguar aroma gosong bekas dibakar.
"Udah makan belum, mau makan apa?" Itu selalu yang menjadi pertanyaan utama. Meski sudah cemepak, seringkali aku bilang sudah kenyang. Atau kadang tak menyentuhnya seketika. Teringat ujaran Kunto, menyesal rasanya menolak. Apapun yang tersaji, itu cara orang tua memanggil kembali memori bahagianya.
Sudah bertahun-tahun terjadi, setiap kembali ke Jakarta, Uti selalu membawakan sebungkus nasi, lengkap dengan lauknya. Untuk Benaeng Taruwara. "Pasti lapar turun dari pesawat nanti. Buat dimakan di taksi," pesannya. Pernah, Uti nyusul ke bandara, khusus hanya untuk mengantarkan nasi bungkus yang tertinggal di meja. Dulu, saya sering enggan. Karena toh beli makanan bisa dimana saja. Lebih praktis. Sekarang saya pasrah saja. Dan benar, Bhumy selalu terpanggil lapar begitu pantat menyentuh kursi taksi.
Kakung lebih heboh lagi. Krupuknya dibawa. Mangganya juga. Yang di meja masukin ke tas semua. Itu ada roti di kulkas, bawa aja. Perintahnya. Terlebih kalau Lebaran atau Natal, biasanya ada banyak makanan bertoples-toples di meja. Sudah pasti aku menolak. Karena semua dibelikan justru untuk rumah di Yogya. Persediaan kalau ada yang datang. Atau teman ngemil nonton TV.
Kemarin, ketika semua barang sudah masuk mobil, Kakung bilang, mangga madunya dibawa. Untuk cemilan di jalan. Jadilah aku kupas, potong-potong dan masuk dalam dua tupparware. Ada satu lagi. Sambel. Setiap pulang, saya selalu minta dibuatkan ibu sambel untuk bekal kembali ke Jakarta. Saya paling malas buat sambel di apartemen. Bisa bau seluruh koridor dan membuat orang bersin-bersin. Sampai Jakarta aku tambah dengan kecombrang atau sere. Jadilah setoples sambel beranak jadi dua toples.
Mudah-mudahan, potongan mangga dan sambel ini membuat eyang kakung dan uti bahagia menjalankan perannya sebagai orang tua.
Ada baiknya, stop mengeluh, ketika di kendaraan atau tas kita dijejalkan beragam makanan. Atau bahkan beras hasil panen. Sayur dari kebun. Buah-buahan dari pekarangan. Bukan kita tak mampu beli, tetapi menerima dengan ringan hati siapa tahu kita mampu menggenapi bahagia orang tua kita. Menghapus khawatirkan. Hanya untuk memastikan kita baik-baik saja. Nyaman dan tercukupi.
Mungkin kita pun suatu saat akan menjalankan peran ini. Dengan lebih drama barangkali.
Minggu, 17 Desember 2017
Namanya Tahun Bahagia
Dear Bhumy,
Tahun ini begitu menyenangkan untuk kita lalui. Dalam suka dan dukanya. Duka yang hanya boleh kita rasakan sesaat dan melupakannya. Sementara rasa suka terus dan terus kita pelihara. Ada banyak cara buat kita untuk selalu tertawa. Memperhatikan orang lewat atau menceritakan kembali lelucon lucu di masa lalu. Buat kamu, tertawa lebih mudah lagi. Membaca bukupun kamu bisa terkikik sendiri. Begitu mudahnya kamu merasa bersuka.
Ingatkah kamu, begitu sukanya kamu dengan percik kembang api dan keramaian tahun baru? Itu moment bahagiamu.
Kembang api, yang kau sulut dengan raut ketakutanmu saat masih begitu kecil dulu. Kau pegang begitu hati-hati. Penasaranmu melebihi takutmu. Saat kau berhasi memegang setangkai kembang api, kau merasa berhasil mengalahkan ketakutanmu sendiri. Percik-percik itu mungkin begitu ajaib buat kamu.
Anakku sayang, mulai tahun ini, Bunda ingin percik kembang api menyala dalam hati dan pikiranmu. Nyala kembang api yang indah dan tertanam dalam setiap kenangan, kamu dan aku. Hemmmmm tahukah kamu, tanpa kamu sadari, percik-percik kembang api itu mulai tumbuh di hati dan pikiranmu. Jadi kerlip yang menyemangati tiap langkapmu.
Anakku, sahabatku, Bunda hanya ingin , kita berdua tumbuh dengan saling percaya dan menyayangi . Bunda ingin menjadi teman dan sahabat Bhumy. Kita bisa mengingatkan kelingking kita dan mengerlingkan mata untuk persetujuan baru ini.
Ya, cukup menjadi teman. Tempat kita bisa saling cerita tanpa prasangka. Mengeluh atau mengaduh. Dan juga melakukan keusilan-keusilan yang menyenangkan.
Sebentar lagi kamu tumbuh besar. Bunda ingin melihat kamu tumbuh desawa dan menjadi dirimu sendiri. Menjadi apapun kamu di masa depan nanti. Tidak akan meresahkan Bunda. Jalani hidupmu, ikutilah keinginan terbaikmu. Pergilah kemana hatimu membawa. Menjadi apapun nanti, kamu tetap membanggakan Bunda, karena kamu adalah percik kembang api indah yang abadi buat Bunda. Ever and forever.
Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Bunda masih harus terus belajar dan belajar lebih giat lagi. Maaf bila dalam perjalanan, ada bentakan, ada kata-kata keras dan ada nada perintah. Semua kadang terjadi begitu saja. Anggap saja, aku sedang dapat nilai ujian jelek ketika melakukannya.
Setiap tahun, selalu menjadi tahun terbaik kita. Tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Perbanyaklah teman. Karena mereka adalah saudara kita di mana berada.
Tahun ini dan tahun-tahun ke depan, perbanyaklah melihat dunia. Supaya tidak picik pikiran kita. Pergilah kemana saja kaki membawa, karena sebetulnya itulah buku kehidupan yang sedang kita baca. Tak akan pernah habis lembar-lembar cerita tentang Indonesia dan dunia.
Dengan banyak berjalan, engkau bisa membuat banyak cerita kehidupan.
Satu hal Bhumy,
Bahagia itu letaknya di hati. Jadi, apapun perjalananmu nanti tetaplah bahagia dengan apa yang terjadi. Sederhanakanlah segala sesuatunya. Dalam hidup, hanya ada dua pilihan bahagia atau sedih, senang atau susah. Pilihlah bahagia, senang dan mudah.
Anakku,
Kalau dalam perjalananmu nanti ada bimbang dan ragu, ingatlah arti namamu Benaeng Ulunati Bhumy Taruwara. Beningnya kalbu tempat tumbuhnya bibit pohon terbaik atau kebaikan,
Sayang bunda untukmu, tidak akan lekang oleh waktu.
Terima kasih sudah menemani perjalanan hidupku. Terima kasih, kamu sudah memberikan hal-hal yang baik dalam pertumbuhanmu dari kecil hingga saat ini.
Bersinarlah Bhumy, tetap setia seperti matahari
Love you
Bunda
Tahun ini begitu menyenangkan untuk kita lalui. Dalam suka dan dukanya. Duka yang hanya boleh kita rasakan sesaat dan melupakannya. Sementara rasa suka terus dan terus kita pelihara. Ada banyak cara buat kita untuk selalu tertawa. Memperhatikan orang lewat atau menceritakan kembali lelucon lucu di masa lalu. Buat kamu, tertawa lebih mudah lagi. Membaca bukupun kamu bisa terkikik sendiri. Begitu mudahnya kamu merasa bersuka.
Ingatkah kamu, begitu sukanya kamu dengan percik kembang api dan keramaian tahun baru? Itu moment bahagiamu.
Kembang api, yang kau sulut dengan raut ketakutanmu saat masih begitu kecil dulu. Kau pegang begitu hati-hati. Penasaranmu melebihi takutmu. Saat kau berhasi memegang setangkai kembang api, kau merasa berhasil mengalahkan ketakutanmu sendiri. Percik-percik itu mungkin begitu ajaib buat kamu.
Anakku sayang, mulai tahun ini, Bunda ingin percik kembang api menyala dalam hati dan pikiranmu. Nyala kembang api yang indah dan tertanam dalam setiap kenangan, kamu dan aku. Hemmmmm tahukah kamu, tanpa kamu sadari, percik-percik kembang api itu mulai tumbuh di hati dan pikiranmu. Jadi kerlip yang menyemangati tiap langkapmu.
Anakku, sahabatku, Bunda hanya ingin , kita berdua tumbuh dengan saling percaya dan menyayangi . Bunda ingin menjadi teman dan sahabat Bhumy. Kita bisa mengingatkan kelingking kita dan mengerlingkan mata untuk persetujuan baru ini.
Ya, cukup menjadi teman. Tempat kita bisa saling cerita tanpa prasangka. Mengeluh atau mengaduh. Dan juga melakukan keusilan-keusilan yang menyenangkan.
Sebentar lagi kamu tumbuh besar. Bunda ingin melihat kamu tumbuh desawa dan menjadi dirimu sendiri. Menjadi apapun kamu di masa depan nanti. Tidak akan meresahkan Bunda. Jalani hidupmu, ikutilah keinginan terbaikmu. Pergilah kemana hatimu membawa. Menjadi apapun nanti, kamu tetap membanggakan Bunda, karena kamu adalah percik kembang api indah yang abadi buat Bunda. Ever and forever.
Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Bunda masih harus terus belajar dan belajar lebih giat lagi. Maaf bila dalam perjalanan, ada bentakan, ada kata-kata keras dan ada nada perintah. Semua kadang terjadi begitu saja. Anggap saja, aku sedang dapat nilai ujian jelek ketika melakukannya.
Setiap tahun, selalu menjadi tahun terbaik kita. Tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Perbanyaklah teman. Karena mereka adalah saudara kita di mana berada.
Tahun ini dan tahun-tahun ke depan, perbanyaklah melihat dunia. Supaya tidak picik pikiran kita. Pergilah kemana saja kaki membawa, karena sebetulnya itulah buku kehidupan yang sedang kita baca. Tak akan pernah habis lembar-lembar cerita tentang Indonesia dan dunia.
Dengan banyak berjalan, engkau bisa membuat banyak cerita kehidupan.
Satu hal Bhumy,
Bahagia itu letaknya di hati. Jadi, apapun perjalananmu nanti tetaplah bahagia dengan apa yang terjadi. Sederhanakanlah segala sesuatunya. Dalam hidup, hanya ada dua pilihan bahagia atau sedih, senang atau susah. Pilihlah bahagia, senang dan mudah.
Anakku,
Kalau dalam perjalananmu nanti ada bimbang dan ragu, ingatlah arti namamu Benaeng Ulunati Bhumy Taruwara. Beningnya kalbu tempat tumbuhnya bibit pohon terbaik atau kebaikan,
Sayang bunda untukmu, tidak akan lekang oleh waktu.
Terima kasih sudah menemani perjalanan hidupku. Terima kasih, kamu sudah memberikan hal-hal yang baik dalam pertumbuhanmu dari kecil hingga saat ini.
Bersinarlah Bhumy, tetap setia seperti matahari
Love you
Bunda
Sabtu, 02 Desember 2017
Kekuatan Sapa
Seperti kebanyakan anak-anak, @bhumy hanya melirik buku yang aku bawa. Tebal. Dan pasti isinya tulisan semua. Barangkali itu yang ada di benaknya.
Long weekend kami tanpa banyak pilihan. TV yang sengaja tak boleh dinyalakan sepanjang libur panjang ini. HP Bhumy yang aku simpan. Mau manyun? Itu pilihan dia.
Oh ya, kami berkomitmen untuk hanya sedikit menonton TV. Biasanya di saat weekend. Dua jam sebelum mata terpejam. Ini semacam pengantar tidur saja. Kapan-kapan aku ceritakan bagaimana bisa hidup minim tontonan TV ini.
Aku tahu, buku-buku Raditya Dika sudah dibacanya berulang-ulang. Dan masih saja selalu ketawa ngikik dengan kalimat-kalimat ajaib Raditya. Juga buku-buku foto yang dicetak tebal. Dia sudah menyisir Hiroshima nya John Hersey. Muhammad Ali. Atau antologi jurnalisme sastrawi mas Andreas Harsono dan teman-teman.
Buku #MataLensa Mbak @berryadek mau nggak mau dia sentuh juga. Dan matanya terbelalak ada namanya yang disebut oleh penulisnya, "For Bhumy." Hanya itu saja. Tetapi ini ternyata magnet baginya.
"Kok Tante Adek tahu namaku?"
"Ini bener buat aku?" Dan yakkkk....pintu masuk sudah dibuka.
Mulailah aku bilang, ini buku hebat. Ditulis fotografer perang. Dia banyak pergi ke daerah-daerah perang dan bencana.
"Fotografer perang" rupanya ini makin membuatnya penasaran. Beberapa buku tentang pembebasan sandera, kisah heroik, dan sejarah perang sudah dibacanya. Kisah-kisah yang membuatnya ikut deg-degan ternyata membuatnya makin penasaran.
Aku ingatkan Bhumy, kalau kita pernah ketemu Tante Adek pas ujian taekwondo, sekian tahun lalu. Aku melengkapi imajinya tentang Mbak Adek yang selalu ke lapangan dengan beberapa kamera, tele dan tripod yang berat. "Mungkin 10-20 kg" ujarku. "Dia kuat?" Tanyanya.
Buku dan imaji dia tentang fotografer yang sering meliput di area berbahaya, melekat kuat. Lembar demi lembar buku ini, yang akan jadi pendorong Bhumy menjadi apapun di masa depan nanti.
Dan semuanya hanya bermula dari sapa: For Bhumy.
Jumat, 01 Desember 2017
Rasa yang Membunuhmu
Pernahkah kamu khawatir anakmu tak sepandai teman-temannya?
Atau khawatir, tumbuhnya tak sempurna. Terlambat bicara, telat jalan, dan sebagainya.
Pernahkah khawatirmu menggelisahkan tidurmu karena takut masa depan seperti apa yang akan anakmu rasakan nanti?
Jujur, rasa takut ini kadang menghantui hari-hari kita. Demi masa depan yang lebih baik, kita mencambuknya dengan berbagai kegiatan.
"Semua demi masa depan kamu. Tidak ada orang tua yang punya maksud jahat untuk anaknya," begitu sering kita dengar argumennya.
Demi kehidupan yang lebih baik, kita mengatur jam demi jam kegembiraannya. Hingga anak lupa bagaimana bergembira atas dirinya sendiri. Bahkan anak tak tahu, ia berhak gembira yang tak direkayasa.
Kita, orang tua dan bukan Tuhan Yang Maha Esa.
Lepaskan...lepaskan kekhawatiranmu ttg masa depan anakmu. Belajar melepas ikhlas anak panahmu.
Biarkan ia, mengikuti air, angin dan cahaya hidupnya.
Selasa, 19 April 2016
Dunia pada Selembar Kertas
Terberkatikah
Cai Lun atau juga yang dikenal dengan nama Ts’ai Lun. Hidup di masa
Dinasti Han abad ke 1–2 Masehi. Karena dialah kita mengenal surat cinta.
Begitu juga ijazah SD dan akta nikah. Tertera pada selembar kertas dan bukan
lempengan timah atau keramik yang mudah pecah.
Bayangkan,
ketika akta pernikahan dari keramik dan retak dimakan zaman, lalu potongannya
disambungkan dengan retakan yang lain, maka nama pasangan kita pun akan berubah
saat itu juga.
Apa
jadinya, kalau kita harus membawa sabak kemana-mana hingga saat ini. Berapa
banyak sabak untuk bisa menikmati cerita panjang seperti novel.
Namun sayangnya, konsumsi per kapita kertas di Indonesia masih sangat rendah: 32,6 kg. Sementara USA 324 kg, Jepang 242 kg, dan Malaysia 106 kg. Bandingkan lagi konsumsi per karpita kertas negara lain: Belgia 295 kg, Kanada 250 kg, Singapura 180 kg. Saat ini kebutuhan kertas dunia sekitar 394 juta ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020. Demand kertas dunia tersebut potensi Indonesia untuk meningkatkan ekspor pulp & kertas dengan unggulnya sumber daya alam kita.
“Mbak, kenapa sih konsumsi kertas kita rendah? Bukankah budaya baca kita cukup baik?” tanya teman dudukku sore itu. Dan disinilah jebakan betmen itu mulai lagi, daya baca rendah, konsumsi kertas lemah. Ahhh…….
Saya harus segera kembali ke Jakarta. Berburu senja. Sambil menebak wajah Ts’ai Lun seperti apa dalam pendar warna jingga.
Maka
kesempatan jalan-jalan ke pabrik kertas menjadi kegembiaraan tersendiri pagi
itu. PT Pindo Deli Pulp and Papers Mill di Karawang. Hampir 2 jam perjalanan lancar
dari Jakarta.
Rerimbunan
acacia crassicarpa tegak berdiri. Langsing,
ramping dan berjejer dengan indahnya. Ini adalah bahan baku utama untuk pembuatan kertas. Ada jenis yang lain. Mangium ataupun eucalyptus. Dan beruntungnya Indonesia dengan sinar mataharinya
yang berlimpah. Bahan baku ini bisa dipanen dalam waktu yang cepat, 5-6 tahun
saja. Negara dengan berbagai iklim dingin harus sabar menanti panenannya, bisa
15-20 tahun.
Tegakkan
pohon ini akan dicincang dan masuk ke dalam mesin, menjadi bubur. Dengan sentuhan
bahan-bahan kimia, jadilah kertas dengan berbagai kegunaan dan ukuran. “Kertas
kita tersertifikasi halal, dan aman digunakan,” ujar Jumali, dari Pindo Deli
yang menjelaskan siang itu.
Kantuk
yang semula datang kala penjelasan proses, menjadi hilang ketika musik jingkrak
hinggap di telinga. Cara cerdas perempuan berjilbab yang memandu kami siang itu,
menggantikan Jumali. Mata pun jadi nanar melihat video proses produksi kertas
diputar. Sesekali ditimpal suara perempuan berjilbab tadi.
“kita
akan tour melihat proses sebenarnya. Tapi
ada aturan tidak boleh memotret di area produksi. Semua proses dikendalikan
oleh sensor-sensor yang dipantau lewat computer,” jelasnya. Sensor yang sensitif
akan menolak kilatan cahaya yang tak semestinya. “Proses bisa terhenti karena
itu,” tambahnya.
Meski
pun begitu, legalah kami, ketika tetap ada kesempatan berfoto di dekat jumbo
roll kertas. Bukankah update status dan pamer foto dengan objek tak lazim tetap
harus dilakukan oleh kaum narsis seperti kami. Hehehheheh ……….
Bau
pabrik, selalu khas. Apapun produksinya. Beberapa akan mengatakan bau dolar. Beberapa
akan mengatakan bau karena panas yang menguar. Entahlah kenapa bau khas itu
yang saya suka. Di luar itu, melihat pabrik, laksana melihat Negara. Sangat tertata. Berjalanlah di sebelah kiri untuk
naik dan turun di sebelah kanan. Jalankan kendaraan 30 meter perjam. Tidak boleh
merokok. Harus berhelm. Memakai masker. Penutup telinga. Berjalan dalam line
kuning.
Tanpa
sadar kami sedang menata informasi dalam pikiran kami. Bahan baku kertas itu
dari Hutan Tanaman Industri dan bukan dari hutan alam. Kayu yang digunakan
diameternya kecil dan bukan log yang besar.
Saya juga sedang mengolah informasi dalam otak kecil ini,
bila industri pulp dan merupakan industri nasional yang sangat potensial, tentu
dia tidak boleh mati. Bayangkan, saat
ini Industri pulp nasional menempati peringkat ke-9 dunia dengan kapasitas
mesin terpasang 8 juta ton/tahun. Sementara
untuk industri kertas nasional menempati peringkat ke-6 dunia dgn kapasitas
mesin terpasang 13 juta ton/tahun.
Namun sayangnya, konsumsi per kapita kertas di Indonesia masih sangat rendah: 32,6 kg. Sementara USA 324 kg, Jepang 242 kg, dan Malaysia 106 kg. Bandingkan lagi konsumsi per karpita kertas negara lain: Belgia 295 kg, Kanada 250 kg, Singapura 180 kg. Saat ini kebutuhan kertas dunia sekitar 394 juta ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020. Demand kertas dunia tersebut potensi Indonesia untuk meningkatkan ekspor pulp & kertas dengan unggulnya sumber daya alam kita.
“Mbak, kenapa sih konsumsi kertas kita rendah? Bukankah budaya baca kita cukup baik?” tanya teman dudukku sore itu. Dan disinilah jebakan betmen itu mulai lagi, daya baca rendah, konsumsi kertas lemah. Ahhh…….
Saya harus segera kembali ke Jakarta. Berburu senja. Sambil menebak wajah Ts’ai Lun seperti apa dalam pendar warna jingga.
Emmy Kuswandari, 19 April 2016
Pic Note: Jaka Anindita, Eriko and friends
Langganan:
Postingan (Atom)



