Kamis, 13 September 2018

Kunjungi www.emmykuswandari.com

Hai....
Untuk tulisan yang ringan-ringan, seringan kapas dan helaan nafas, dilakan kunjungi www.emmykuswandari.com ya.


Have fun

Selasa, 20 Maret 2018

Menjadi Ibu




Kami masih di kota yang sama.  Tapi kesempatan mungkin sembunyi di lubang sempit. Kami jarang jumpa jadinya. Padahal banyak moment harusnya kami bisa sua. Kadang kerepotan masing-masing dan fokus pada apa yang harus dikerjakan tak bisa membuat kami banyak bercakap.

Sore beberapa hari lalu adalah kebetulan. Berada di  tempat dan acara yang sama. Berdiri tanpa ada yang membatasi. Lalu mengalirkan kabar kami masing-masing. Kabar anak-anak tepatnya yang kini membanjiri  komunikasi kami.

Ternyata lama sekali kami tak intens berkomunikasi.   Mungkin sejak 2011.  Pada satu momen dia menemani masa tak menyenangkan yang harus aku lewati. Ciracas. Kamu tahulah apa yang harus kami selesaikan di sana.

Lalu mengalirlah  kabar duka tentang ibunya. Duka yang tak mudah ia lalui karena ada saudara yang harus dijaga dan diperhatikan seumur hidupnya. Ahhhhhhhhh.......banyak sekali kabar yang tak lagi aku tahu. Termasuk Tama kecil.

Tama, bayi mungilnya sudah  2 tahun kini. Lelaki kecil yang menjadi pusaran bahagianya. “Aku tidak mau meninggalkan dia lama-lama. Semua seakan tertuju pada dia,” ujarnya. Kalimat sederhana yang aku yakini dalam sekali maknanya. “Begini rasanya menjadi ibu,” lanjutnya. Aku yakin, ia mengucapkannya dengan amat sangat bahagia.

Kami tumbuh dewasa bersama rasanya. Menjadi ibu dengan perjalanannnya masing-masing. Perjalananku dan perjalanannya. Mungkin dulu  aku yang lebih banyak membutuhkan penguatan darinya. Sekuat apapun aku, tentu perlu diamnya orang lain untuk mendengarkan. Dannnnnn........aku tak pernah tahu kapan dia membutuhkan aku.

Sekelumit cerita sore itu membuat aku tahu. Kami bahagia dengan cara kami masing-masing. Sesederhana apapun pilihan hidup kami.

Terima kasih mbak Fransisca Ria Susanti. Ciumku untuk Tama.

Senin, 19 Februari 2018

Menghitung Syukur



Kata itu mempengaruhi alam semesta bekerja. Niatan kita tepatnya.

"Blessed Monday" kata yang biasa  di timeline Senin. Tapi saya sungguh-sungguh meyakininya.

Keluar apartemen dan saya bingung mencari di mana mobil saya. Setelah putar-putar nyari saya baru sadar. Ternyata mobil tertinggal di kantor sejak Minggu lalu. Jadilah  komuter mengantar saya lebih cepat ke kantor. Lupa sesaat ternyata ada manfaatnya.

Turun dari komuter, Abang  sudah menanti. Babang ojek. "Enak Pak motornya" kata saya membuka sapa. "Iya Bu. Karena sejauh pengamatan saya, pengguna ojek itu perempuan. Motor seperti ini cocok. Tidak terlalu tinggi," jelasnya. Tukang ojek pun bekerja dengan pengamatan dan analisa.

Jadilah kami naik motor berdua. Romantis. Apalagi ditemani gerimis tipis.

Saat gerimis ditemani kain manis Valentine's gift dari Mbak Cantik Monica Kumalasari.

Oh ya, dari rumah sempat dibekali mbak,  keripik pisang kepok dari Ciawi. Enak. Sekaligus juga membuat roda ekonominya bergulir lebih kencang. Dia marketing yang hebat.

Nah, siang ada berkat lain lagi. Ketemu Bang Fikar Rizky Mohammad. Umurnya masih 20 an. Beda tipis lah usianya sama saya. Kami berbincang panjang lebar. 1.5 jam lebih. Darinya saya belajar. Yang paling utama adalah belajar melihat segala sesuatunya dari sudut   pandang positif. Baik dari kata, rencana kerja dan yang paling utama: apa karya kita yang bermanfaat untuk sesama. Ia menegaskan, karya adalah yang membedakan kita dengan yang lainnya.

Di usia yang masih belia, dia punya gagasan-gagasan besar untuk Indonesia. Belajar fisika dan bisnis, memudahkan ia mengelola dunia yang kompleks menjadi lebih sederhana. Ia ingin, kelimpahan Indonesia akan matahari misalnya,  benar-benar memberdayakan masyarakatnya.

Hari ini ditutup dengan coklat falling in love ditraktir jeng Eka Wijayanti

See.....betapa beruntungnya saya.

Menghitung syukur ini justru saya pelajari dari Benaeng Taruwara saat SD. Tiap hari ia menuliskan rasa syukurnya dalam sebuah buku. Kadang hanya satu ia tulis kadang banyak.

Ya Tuhan terima kasih saya masih bernafas.
Ya Tuhan terima kasih makanan ini enak.
Tuhan terima kasih karena Bunda baik.
Terima kasih Tuhan aku masih hidup.

Begitu tulisnya. Dan selalu diulang-ulang sesuai dengan nikmat yang ia syukuri.

Sudahkah kau syukuri nikmat hari ini? Siapa tahu itu membuatmu tak terlalu riuh dengan keluhan.

Selasa, 02 Januari 2018

Sedekah Ilmu


Tahu goreng pagi ini berbeda rasa. Meski dari penjual yang sama, di belakang kantor. Padahal, demi Tuhan, ngantor pertama saya ingin mulai makan yang sehat.  Diet canggih seperti orang-orang. Resolusi awal tahun. Dan hancur di hari pertama.
Ada kriuk renyah dari setiap potongan tahu pagi ini. “Buku apa yang paling akhir dibaca?” Tanya Lutfie Syaukani. Pertanyaan yang garing. Karena kita lebih banyak membaca  status orang di sosial media. Sejujurnya itu yang terjadi dalam keseharian kita saat ini.
Dan, ternyata  benar dugaku. Sebagian kami kesulitan untuk mengingat kembali buku terakhir yang kami baca.  Justru ingatan yang membeku tentang  buku yang kami baca ini, menjadi pintu pembuka pelajaran kami  pagi ini.
Kami tengah belajar menulis. Sederhana. Setiap hari kami berkutat dengan sekian puluh abjad. Entah untuk say halo, atau menulis sedikit lebih serius. Smartphone memudahkan kita berekspresi.  “Jangan membuat pembaca atau bos kita perih duluan membaca tulisan kita. Apa dosanya, sehingga pagi-pagi harus membaca tulisan yang buruk,” ujar  Lutfie. Kami hanya tertawa. Mesti mengiyakan dalam hati. Tulisan yang buruk memang sangat mengesalkan. Kita dengan mudah akan menghakimi penulisnya bodoh.
Menghindari tulisan yang buruk, penting bagi kita memiliki pengetahuan menulis. Syaukani mengingatkan  hal ini.  Ada empat  alasan kenapa kita menulis. Pertama, untuk mengeskpresikan diri seperti Anne Frank dan Soe Hok Gie. Atau, untuk membangun nama atau reputasi, seperti Andre Hirata atau penulis Harry Potter, J. K. Rowling. “Bisa juga karena kita ingin mengubah dunia. Jangan berpikir dunia yang luas. Dunia sekitar kita saja,” ujar Lutfie. Ia mencontohkan Stephen Hawking yang menulis A Brief History of Time. Atau Rachel Carson dengan Silent Spring yang gelisah ketika dia tak lagi mendengar kicau burung di daerah yang dulu riuh dengan cuitannya. Karya yang terbit pada 1962 itu fokus pada efek pestisida DDT (dichloro-diphenil-trichloro-ethane) terhadap kehidupan liar dan pengaruh jangka panjang pada rantai makanan. Bacalah, sudah ada edisi Indonesianya.
Atau keempat, kita menulis karena tuntutan pekerjaan.  Membuat laporan misalnya. “Tapi ingat, jangan membuat bosmu perih dulu ya,” ujarnya.
Di layar depan lalu  muncul gambar Pramoedya Ananta Toer. Kalau aku boleh memilih, hanya ada dua lelaki seksi sepanjang hidupku. Pram dan Sindhunata. Nambah lagi satu, EKa Kurniawan, dengan Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau. Belum nambah lagi  deretan lelaki dalam imajiku ini. Pram pernah bilang: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Siapa coba yang tidak akan klepek-klepek dengan ungkapan ini? “Menulis itu seksi,” lanjut Lutfie. Mungkin juga pacarnya banyak. Lalu kenapa kau tak mulai menulis?
Kamu tak  tanya kenapa aku menulis? Aku hanya ingin menghidupkan abjad. Lalu apakah pacarku banyak?
Ah sudah dulu ya. Sudah siang. Makan siang menanti. Aku lanjut lagi nanti.


Senin, 01 Januari 2018

ANAK

Merawat pertemanan kadang memang perlu dipaksakan. Memaksakan langkah untuk ketemu. Menggiring waktu. Hanya untuk bisa bertukar kabar.

Kalau dipikir, kami tentu malas menembus macetnya Yogya saat libur panjang. Terlebih Alb Agung Kunto Anggoro harus turun Merapi dan melintas Jalan Kaliurang dan Yogya Solo yang ampun-ampunan macetnya.

Kami harus bertemu, sebelum tenggelam dalam kesibukan awal tahun. Sejujurnya, pertemuan kami juga hanya setahun atau dua tahun sekali. Tahun lalu, kami melewatkan malam yang panjang hingga subuh datang. Di ruang pemulasaraan jenazah RS Sanglah. Kunto  dan teman-teman De Britto memandikan dan ndandani Kristupa hingga jadi ganteng. "Saiki kowe wes ngganteng Bro. Sugeng tindak," ujar Kunto sambil merapikan tangan Kristupa. Candanya memecah ruang paling sunyi di sudut rumah sakit itu. Juga sudut hati kami yang tiba-tiba sepi. Pertemanan yang menguat menjadi persaudaraan. Menghantarkan Kristupa dalam istirahat panjangnya. Kami berteman sejak 90 an.

Saya dan Kunto, melewati jalan panjang kehidupan. Tapi tak pernah sekalipun menanyakan hidup pribadi masing-masing. Membiarkan ruang dan waktu merawatnya secara alami.

Satu hal yang membuat saya merasa perlu ketemu Kunto. Selalu ada hal baru yang bisa tertanam di hati. Hal lama mungkin, tetapi dengan menceritakan kembali, menjadi baru untuk salah satu diantara kami.

Di pertemuan penghujung tahun kemarin, ia mengingatkan aku tentang menjadi anak. "Anak tetaplah anak bagi orang tuanya. Sampai kapanpun. Sekaya dan semampu apapun kita. Berlakulah tetap sebagai anak terhadap orang tua kita," ujarnya.

Ia mencontohkan, kadang ia justru merengek pada orang tuanya untuk ditraktir makan di luar rumah.

"Ada kebanggan buat orang tua, saat membayar makanan untuk kita. Bercerita pada kasir, dan mengeluarkan uang dari dompet atau saku celananya. Orang tua pasti akan menceritakan dengan bangga tentang anaknya," ujar Kunto saat cahaya di sawah belakang rumah perlahan mulai temaram.

Cerita yang sangat sederhana. Yang ia ceritakan kembali dari sebuah tulisan entah di mana.

Dan cerita ini yang mengoyak kesadaranku, bahwa di umur-umur seperti saat ini kita selalu menanamkan diri untuk balas budi membahagiakan orang tua. Membelikan mereka ini itu, membuatnya nyaman, mengajaknya ke sana dan kemari. Dan banyak lagi. Lalu kita kadang lupa, untuk tetap menjadi anak bagi orang tua kita.

Saat datang berkunjung, melihat ibu repot memasak sesuatu, kita melarangnya. Mbok sudah duduk saja, nanti kita beli makanannya. Atau berpesan, ibu jangan capek-capek.

Kita lupa, menyiapkan makan, membuatkan minum, merapikan tempat tidur ternyata panggilan kenangan yang menyenangkan bagi orang tua kita. Mengingatkannya pada zaman kita masih di bawah pengasuhan penuh orang tua. Orang tua yang ingin selalu memastikan kenyamanan buat kita.

Teringat aku pada teh panas yang sudah disiapkan uti saat aku baru menginjak ruang tengah. Atau jahe panas bikinan Pak Mardi, angkringan sebelah rumah. Kadang dilengkapi dengan dua tiga bungkus sego kucing, mendoan bakar, ceker atau swiwi yang menguar aroma gosong bekas dibakar.

"Udah makan belum, mau makan apa?" Itu selalu yang menjadi pertanyaan utama. Meski sudah cemepak, seringkali aku bilang sudah kenyang. Atau kadang tak menyentuhnya seketika. Teringat ujaran Kunto, menyesal rasanya menolak. Apapun yang tersaji, itu cara orang tua memanggil kembali memori bahagianya.

Sudah bertahun-tahun terjadi, setiap kembali ke Jakarta, Uti selalu membawakan sebungkus nasi, lengkap dengan lauknya. Untuk Benaeng Taruwara. "Pasti lapar turun dari pesawat nanti. Buat dimakan di taksi," pesannya.  Pernah, Uti nyusul ke bandara, khusus hanya untuk mengantarkan nasi bungkus yang tertinggal di meja.  Dulu, saya sering enggan. Karena toh beli makanan bisa dimana saja. Lebih praktis.  Sekarang saya pasrah saja. Dan benar, Bhumy selalu terpanggil lapar begitu pantat menyentuh kursi taksi.

Kakung lebih heboh lagi. Krupuknya dibawa. Mangganya juga. Yang di meja masukin ke tas semua. Itu ada roti di kulkas, bawa aja. Perintahnya. Terlebih kalau Lebaran atau Natal, biasanya ada banyak makanan bertoples-toples di meja. Sudah pasti aku menolak. Karena semua dibelikan justru untuk rumah di Yogya. Persediaan kalau ada yang datang. Atau teman ngemil nonton TV.

Kemarin, ketika semua barang sudah masuk mobil, Kakung bilang, mangga madunya dibawa. Untuk cemilan di jalan. Jadilah aku kupas, potong-potong dan masuk dalam dua tupparware. Ada satu lagi. Sambel. Setiap pulang, saya selalu minta dibuatkan ibu  sambel untuk bekal kembali ke Jakarta. Saya paling malas buat sambel di apartemen. Bisa bau seluruh koridor dan membuat orang bersin-bersin.  Sampai Jakarta aku tambah dengan kecombrang atau sere. Jadilah setoples sambel beranak jadi dua toples.

Mudah-mudahan, potongan mangga dan sambel ini membuat eyang kakung dan uti bahagia menjalankan perannya sebagai orang tua.

Ada baiknya, stop mengeluh, ketika di kendaraan atau tas kita dijejalkan beragam makanan. Atau bahkan beras hasil panen. Sayur dari kebun. Buah-buahan dari pekarangan. Bukan kita tak mampu beli, tetapi menerima dengan ringan hati siapa tahu kita mampu menggenapi bahagia orang tua kita. Menghapus khawatirkan. Hanya untuk memastikan kita baik-baik saja. Nyaman dan tercukupi.

Mungkin kita pun suatu saat akan menjalankan peran ini. Dengan lebih drama barangkali.

Minggu, 17 Desember 2017

Namanya Tahun Bahagia

Dear Bhumy,

Tahun ini begitu menyenangkan untuk kita lalui. Dalam suka dan dukanya. Duka yang hanya  boleh kita rasakan  sesaat dan melupakannya. Sementara rasa suka terus dan terus kita pelihara. Ada banyak cara buat kita untuk selalu tertawa. Memperhatikan orang lewat atau menceritakan kembali lelucon lucu di masa lalu. Buat kamu, tertawa lebih mudah lagi. Membaca bukupun kamu bisa terkikik sendiri. Begitu mudahnya kamu  merasa bersuka.

Ingatkah kamu, begitu sukanya kamu dengan percik kembang api dan keramaian tahun baru? Itu  moment bahagiamu.

Kembang api, yang kau sulut dengan raut ketakutanmu saat masih begitu kecil dulu. Kau pegang begitu hati-hati. Penasaranmu melebihi takutmu. Saat kau berhasi memegang setangkai kembang api, kau merasa berhasil mengalahkan ketakutanmu sendiri.  Percik-percik itu mungkin begitu ajaib buat kamu.

Anakku sayang,  mulai tahun ini, Bunda ingin  percik kembang api menyala dalam hati dan pikiranmu. Nyala kembang api yang indah dan tertanam dalam setiap kenangan, kamu dan aku. Hemmmmm tahukah kamu, tanpa kamu sadari, percik-percik kembang api  itu mulai tumbuh  di hati dan pikiranmu. Jadi kerlip yang menyemangati tiap langkapmu.

Anakku, sahabatku, Bunda hanya ingin , kita berdua tumbuh  dengan saling percaya dan menyayangi . Bunda ingin  menjadi teman dan sahabat Bhumy. Kita bisa  mengingatkan kelingking kita dan mengerlingkan mata  untuk persetujuan baru ini.

Ya, cukup menjadi teman. Tempat kita bisa saling cerita tanpa  prasangka. Mengeluh atau mengaduh. Dan juga melakukan keusilan-keusilan yang menyenangkan.
Sebentar lagi  kamu tumbuh  besar. Bunda ingin melihat kamu tumbuh desawa dan menjadi dirimu sendiri.  Menjadi apapun  kamu di masa depan nanti. Tidak akan meresahkan Bunda.  Jalani hidupmu, ikutilah keinginan terbaikmu. Pergilah kemana hatimu membawa. Menjadi apapun nanti, kamu tetap membanggakan Bunda, karena kamu adalah percik kembang api indah yang abadi buat Bunda. Ever and forever.

Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Bunda masih harus terus belajar dan belajar lebih  giat  lagi.  Maaf bila  dalam perjalanan, ada bentakan, ada kata-kata keras dan ada nada perintah. Semua  kadang terjadi  begitu saja. Anggap saja, aku sedang dapat nilai ujian jelek ketika melakukannya. 

Setiap tahun, selalu menjadi tahun terbaik kita. Tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Perbanyaklah teman. Karena mereka adalah saudara kita di mana  berada.

Tahun ini dan tahun-tahun ke depan, perbanyaklah melihat dunia. Supaya tidak picik pikiran kita. Pergilah kemana saja kaki membawa, karena sebetulnya itulah buku kehidupan yang sedang kita baca. Tak akan pernah habis  lembar-lembar cerita tentang Indonesia dan dunia.

Dengan  banyak berjalan, engkau  bisa membuat banyak cerita kehidupan.
Satu hal Bhumy,

Bahagia itu letaknya di hati. Jadi,  apapun perjalananmu nanti tetaplah bahagia dengan apa yang terjadi. Sederhanakanlah segala sesuatunya. Dalam hidup, hanya ada dua pilihan bahagia atau sedih, senang atau susah. Pilihlah bahagia, senang dan mudah.

Anakku,
Kalau dalam perjalananmu nanti ada bimbang dan ragu, ingatlah arti namamu Benaeng Ulunati Bhumy Taruwara. Beningnya kalbu tempat tumbuhnya bibit pohon terbaik atau kebaikan,
Sayang bunda untukmu, tidak akan lekang oleh waktu.

Terima kasih sudah menemani perjalanan hidupku. Terima kasih, kamu sudah memberikan hal-hal yang baik dalam pertumbuhanmu dari kecil hingga saat ini.

Bersinarlah Bhumy, tetap setia seperti matahari

Love you

Bunda

Sabtu, 02 Desember 2017

Kekuatan Sapa



Seperti kebanyakan anak-anak,  @bhumy  hanya melirik buku yang aku bawa. Tebal. Dan pasti isinya tulisan semua. Barangkali itu yang ada di benaknya.

Long weekend kami tanpa banyak pilihan. TV yang sengaja tak boleh dinyalakan sepanjang libur panjang ini. HP Bhumy yang aku simpan. Mau manyun? Itu pilihan dia.

Oh ya, kami berkomitmen untuk hanya sedikit menonton TV. Biasanya di saat weekend. Dua jam sebelum mata terpejam. Ini semacam pengantar tidur saja. Kapan-kapan aku ceritakan bagaimana bisa hidup minim tontonan TV ini.

Aku tahu, buku-buku Raditya Dika sudah dibacanya berulang-ulang.  Dan masih saja selalu ketawa ngikik dengan kalimat-kalimat ajaib Raditya. Juga buku-buku foto yang dicetak tebal. Dia sudah menyisir Hiroshima nya John Hersey. Muhammad Ali. Atau antologi jurnalisme sastrawi mas Andreas Harsono dan teman-teman.

Buku #MataLensa Mbak @berryadek mau nggak mau dia sentuh juga. Dan matanya terbelalak ada namanya yang disebut oleh penulisnya, "For Bhumy." Hanya  itu saja.  Tetapi ini ternyata magnet baginya.

"Kok Tante Adek  tahu namaku?"
"Ini bener buat aku?" Dan yakkkk....pintu masuk sudah dibuka.

Mulailah aku bilang, ini buku hebat. Ditulis fotografer perang. Dia banyak pergi ke daerah-daerah perang dan bencana.

"Fotografer perang" rupanya ini makin membuatnya penasaran. Beberapa buku tentang pembebasan sandera, kisah heroik, dan sejarah perang sudah dibacanya. Kisah-kisah yang membuatnya ikut deg-degan ternyata membuatnya makin penasaran.

Aku ingatkan Bhumy, kalau kita pernah ketemu Tante Adek pas ujian taekwondo, sekian tahun lalu. Aku melengkapi imajinya tentang Mbak Adek yang selalu ke lapangan dengan beberapa kamera, tele dan tripod yang berat. "Mungkin 10-20 kg" ujarku. "Dia kuat?" Tanyanya.

Buku dan imaji dia tentang fotografer yang sering meliput di area berbahaya, melekat kuat. Lembar demi lembar buku ini, yang akan jadi pendorong Bhumy menjadi apapun di masa depan nanti.

Dan semuanya hanya bermula dari sapa: For Bhumy.