Minggu, 06 September 2009

Kencan Istimewa

Sabtu lalu kencan saya sangat istimewa. Komplit pakai telor dan penuh cinta. Daripada nanti saya ditanya siapa lelaki beruntung itu lebih baik saya sebutkan namanya: Agus Sufriyadi (ada di FB dan link saya). Masih muda, baru 23 tahun. Brondong booooo.....

Agus melebihi lelaki manapun yang pernah saya kenal selama ini. Tingginya proporsional. Hari itu ia memakai celana kain warna hitam dan kaos tiga warna – biru putih dan hitam. Rambutnya rapi. Di telinganya terselip earphone. Keren. Mirip Paspampres.

Dia datang telat ketika kami, teman-teman dari berbagai komunitas, sedang belajar tentang No Limits. Begitu ia membuka pintu, saya tahu lelaki itu sangat percaya diri. Dan benar dugaan saya. Ia memang sangat percaya diri. Ia pernah ke Hongkong menyemangati saudara-saudara kita yang bekerja sebagai TKI di sana. Agus sukses berwirausaha. Tempat dagangnya ada di beberapa tempat.

Di mata saya, Agus memang sangat istimewa. Saya masih sering tidak percaya diri ketika salah kostum atau berada di lingkungan yang baru. Tetapi ia tidak. Begitu cair Agus membaur bersama kami. Meski untuk bicara, ia sedikit mengalami ketersendatan. Perlu bantuan seorang kawan untuk melengkapi atau menjelaskan kata-kata Agus.

Earphone itu adalah alat bantu dengar yang ia pakai sepanjang hidupnya, hingga saat ini. Ya, Agus menderita Celebral Palsy serta mengalami gangguan pendengaran.

Tapi begitu bersemangatnya ia tentang hidup. Kami mengundangnya sebagai pembicara, tetapi ia malah larut menjadi peserta seperti kami. Dan hatinya....hemmm...penuh dengan cinta, toleransi dan kepedulian.

Saat kami menggambar tentang cita-cita, hambatan dan hidup yang kami inginkan ke depan, ia menggambar tentang dirinya, satu temannya yang buta dan satu yang tuna rungu. Lalu ia melengkapi gambarnya dengan tulisan ”Allah” dalam huruf Arab. Ia menggambarkan betapa ia cinta dengan tuhan dan ingin hidup di jalannya.

Sampai hari ini ”kencan” dengan Agus begitu membekas. Menorehkan catatan di hati. Agus begitu bahagia dan bersyukur terhadap segala kekurangnnya. Tapi kenapa kita justru seringkali mengutuki kelebihan kita? Di tengah keterbatasannya, Agus “menumbuhkan” tangan, kaki, mata dan pendengaran bagi teman-temannya, tapi kenapa kita seringkali justru “memangkas” segala kelebihan teman-teman kita, hanya supaya biar kita sendiri yang eksis dan menonjol.

Gus, tarima kasih ya. Kencan kemarin begitu menyemangati saya. Terima kasih boleh bersalaman, mendengarkan kata-katamu dan menikmati gambarmu. Buatku, kamu adalah gambaran kehidupan yang sangat indah.

Salam hormatku untuk ayah ibumu, yang mengajari kamu tentang hidup, tentang cinta dan tentang rasa.

Kamu membuatku kembali mensyukuri semuanya. Bukankah rasa syukur merupakan ungkapan emosi yang paling kuat? Yang mampu membersihkan racun-racun yang dihasilkan oleh rasa takut, tidak nyaman dan marah.

Terima kasih ya Gus.

2 komentar:

Leila Mona Ganiem mengatakan...

i like this writing. lucu. keren... Salam kenal u Agus tersebut ya Mbak

emmy.kuswandari mengatakan...

Yukkk kapan-kapan ketemuan Ma Agus Mbak.