Kamis, 13 September 2018

Kunjungi www.emmykuswandari.com

Hai....
Untuk tulisan yang ringan-ringan, seringan kapas dan helaan nafas, silakan kunjungi www.emmykuswandari.com ya.


Have fun

Selasa, 20 Maret 2018

Menjadi Ibu




Kami masih di kota yang sama.  Tapi kesempatan mungkin sembunyi di lubang sempit. Kami jarang jumpa jadinya. Padahal banyak moment harusnya kami bisa sua. Kadang kerepotan masing-masing dan fokus pada apa yang harus dikerjakan tak bisa membuat kami banyak bercakap.

Sore beberapa hari lalu adalah kebetulan. Berada di  tempat dan acara yang sama. Berdiri tanpa ada yang membatasi. Lalu mengalirkan kabar kami masing-masing. Kabar anak-anak tepatnya yang kini membanjiri  komunikasi kami.

Ternyata lama sekali kami tak intens berkomunikasi.   Mungkin sejak 2011.  Pada satu momen dia menemani masa tak menyenangkan yang harus aku lewati. Ciracas. Kamu tahulah apa yang harus kami selesaikan di sana.

Lalu mengalirlah  kabar duka tentang ibunya. Duka yang tak mudah ia lalui karena ada saudara yang harus dijaga dan diperhatikan seumur hidupnya. Ahhhhhhhhh.......banyak sekali kabar yang tak lagi aku tahu. Termasuk Tama kecil.

Tama, bayi mungilnya sudah  2 tahun kini. Lelaki kecil yang menjadi pusaran bahagianya. “Aku tidak mau meninggalkan dia lama-lama. Semua seakan tertuju pada dia,” ujarnya. Kalimat sederhana yang aku yakini dalam sekali maknanya. “Begini rasanya menjadi ibu,” lanjutnya. Aku yakin, ia mengucapkannya dengan amat sangat bahagia.

Kami tumbuh dewasa bersama rasanya. Menjadi ibu dengan perjalanannnya masing-masing. Perjalananku dan perjalanannya. Mungkin dulu  aku yang lebih banyak membutuhkan penguatan darinya. Sekuat apapun aku, tentu perlu diamnya orang lain untuk mendengarkan. Dannnnnn........aku tak pernah tahu kapan dia membutuhkan aku.

Sekelumit cerita sore itu membuat aku tahu. Kami bahagia dengan cara kami masing-masing. Sesederhana apapun pilihan hidup kami.

Terima kasih mbak Fransisca Ria Susanti. Ciumku untuk Tama.

Senin, 19 Februari 2018

Menghitung Syukur



Kata itu mempengaruhi alam semesta bekerja. Niatan kita tepatnya.

"Blessed Monday" kata yang biasa  di timeline Senin. Tapi saya sungguh-sungguh meyakininya.

Keluar apartemen dan saya bingung mencari di mana mobil saya. Setelah putar-putar nyari saya baru sadar. Ternyata mobil tertinggal di kantor sejak Minggu lalu. Jadilah  komuter mengantar saya lebih cepat ke kantor. Lupa sesaat ternyata ada manfaatnya.

Turun dari komuter, Abang  sudah menanti. Babang ojek. "Enak Pak motornya" kata saya membuka sapa. "Iya Bu. Karena sejauh pengamatan saya, pengguna ojek itu perempuan. Motor seperti ini cocok. Tidak terlalu tinggi," jelasnya. Tukang ojek pun bekerja dengan pengamatan dan analisa.

Jadilah kami naik motor berdua. Romantis. Apalagi ditemani gerimis tipis.

Saat gerimis ditemani kain manis Valentine's gift dari Mbak Cantik Monica Kumalasari.

Oh ya, dari rumah sempat dibekali mbak,  keripik pisang kepok dari Ciawi. Enak. Sekaligus juga membuat roda ekonominya bergulir lebih kencang. Dia marketing yang hebat.

Nah, siang ada berkat lain lagi. Ketemu Bang Fikar Rizky Mohammad. Umurnya masih 20 an. Beda tipis lah usianya sama saya. Kami berbincang panjang lebar. 1.5 jam lebih. Darinya saya belajar. Yang paling utama adalah belajar melihat segala sesuatunya dari sudut   pandang positif. Baik dari kata, rencana kerja dan yang paling utama: apa karya kita yang bermanfaat untuk sesama. Ia menegaskan, karya adalah yang membedakan kita dengan yang lainnya.

Di usia yang masih belia, dia punya gagasan-gagasan besar untuk Indonesia. Belajar fisika dan bisnis, memudahkan ia mengelola dunia yang kompleks menjadi lebih sederhana. Ia ingin, kelimpahan Indonesia akan matahari misalnya,  benar-benar memberdayakan masyarakatnya.

Hari ini ditutup dengan coklat falling in love ditraktir jeng Eka Wijayanti

See.....betapa beruntungnya saya.

Menghitung syukur ini justru saya pelajari dari Benaeng Taruwara saat SD. Tiap hari ia menuliskan rasa syukurnya dalam sebuah buku. Kadang hanya satu ia tulis kadang banyak.

Ya Tuhan terima kasih saya masih bernafas.
Ya Tuhan terima kasih makanan ini enak.
Tuhan terima kasih karena Bunda baik.
Terima kasih Tuhan aku masih hidup.

Begitu tulisnya. Dan selalu diulang-ulang sesuai dengan nikmat yang ia syukuri.

Sudahkah kau syukuri nikmat hari ini? Siapa tahu itu membuatmu tak terlalu riuh dengan keluhan.

Selasa, 02 Januari 2018

Sedekah Ilmu


Tahu goreng pagi ini berbeda rasa. Meski dari penjual yang sama, di belakang kantor. Padahal, demi Tuhan, ngantor pertama saya ingin mulai makan yang sehat.  Diet canggih seperti orang-orang. Resolusi awal tahun. Dan hancur di hari pertama.
Ada kriuk renyah dari setiap potongan tahu pagi ini. “Buku apa yang paling akhir dibaca?” Tanya Lutfie Syaukani. Pertanyaan yang garing. Karena kita lebih banyak membaca  status orang di sosial media. Sejujurnya itu yang terjadi dalam keseharian kita saat ini.
Dan, ternyata  benar dugaku. Sebagian kami kesulitan untuk mengingat kembali buku terakhir yang kami baca.  Justru ingatan yang membeku tentang  buku yang kami baca ini, menjadi pintu pembuka pelajaran kami  pagi ini.
Kami tengah belajar menulis. Sederhana. Setiap hari kami berkutat dengan sekian puluh abjad. Entah untuk say halo, atau menulis sedikit lebih serius. Smartphone memudahkan kita berekspresi.  “Jangan membuat pembaca atau bos kita perih duluan membaca tulisan kita. Apa dosanya, sehingga pagi-pagi harus membaca tulisan yang buruk,” ujar  Lutfie. Kami hanya tertawa. Mesti mengiyakan dalam hati. Tulisan yang buruk memang sangat mengesalkan. Kita dengan mudah akan menghakimi penulisnya bodoh.
Menghindari tulisan yang buruk, penting bagi kita memiliki pengetahuan menulis. Syaukani mengingatkan  hal ini.  Ada empat  alasan kenapa kita menulis. Pertama, untuk mengeskpresikan diri seperti Anne Frank dan Soe Hok Gie. Atau, untuk membangun nama atau reputasi, seperti Andre Hirata atau penulis Harry Potter, J. K. Rowling. “Bisa juga karena kita ingin mengubah dunia. Jangan berpikir dunia yang luas. Dunia sekitar kita saja,” ujar Lutfie. Ia mencontohkan Stephen Hawking yang menulis A Brief History of Time. Atau Rachel Carson dengan Silent Spring yang gelisah ketika dia tak lagi mendengar kicau burung di daerah yang dulu riuh dengan cuitannya. Karya yang terbit pada 1962 itu fokus pada efek pestisida DDT (dichloro-diphenil-trichloro-ethane) terhadap kehidupan liar dan pengaruh jangka panjang pada rantai makanan. Bacalah, sudah ada edisi Indonesianya.
Atau keempat, kita menulis karena tuntutan pekerjaan.  Membuat laporan misalnya. “Tapi ingat, jangan membuat bosmu perih dulu ya,” ujarnya.
Di layar depan lalu  muncul gambar Pramoedya Ananta Toer. Kalau aku boleh memilih, hanya ada dua lelaki seksi sepanjang hidupku. Pram dan Sindhunata. Nambah lagi satu, EKa Kurniawan, dengan Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau. Belum nambah lagi  deretan lelaki dalam imajiku ini. Pram pernah bilang: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Siapa coba yang tidak akan klepek-klepek dengan ungkapan ini? “Menulis itu seksi,” lanjut Lutfie. Mungkin juga pacarnya banyak. Lalu kenapa kau tak mulai menulis?
Kamu tak  tanya kenapa aku menulis? Aku hanya ingin menghidupkan abjad. Lalu apakah pacarku banyak?
Ah sudah dulu ya. Sudah siang. Makan siang menanti. Aku lanjut lagi nanti.


Senin, 01 Januari 2018

ANAK

Merawat pertemanan kadang memang perlu dipaksakan. Memaksakan langkah untuk ketemu. Menggiring waktu. Hanya untuk bisa bertukar kabar.

Kalau dipikir, kami tentu malas menembus macetnya Yogya saat libur panjang. Terlebih Alb Agung Kunto Anggoro harus turun Merapi dan melintas Jalan Kaliurang dan Yogya Solo yang ampun-ampunan macetnya.

Kami harus bertemu, sebelum tenggelam dalam kesibukan awal tahun. Sejujurnya, pertemuan kami juga hanya setahun atau dua tahun sekali. Tahun lalu, kami melewatkan malam yang panjang hingga subuh datang. Di ruang pemulasaraan jenazah RS Sanglah. Kunto  dan teman-teman De Britto memandikan dan ndandani Kristupa hingga jadi ganteng. "Saiki kowe wes ngganteng Bro. Sugeng tindak," ujar Kunto sambil merapikan tangan Kristupa. Candanya memecah ruang paling sunyi di sudut rumah sakit itu. Juga sudut hati kami yang tiba-tiba sepi. Pertemanan yang menguat menjadi persaudaraan. Menghantarkan Kristupa dalam istirahat panjangnya. Kami berteman sejak 90 an.

Saya dan Kunto, melewati jalan panjang kehidupan. Tapi tak pernah sekalipun menanyakan hidup pribadi masing-masing. Membiarkan ruang dan waktu merawatnya secara alami.

Satu hal yang membuat saya merasa perlu ketemu Kunto. Selalu ada hal baru yang bisa tertanam di hati. Hal lama mungkin, tetapi dengan menceritakan kembali, menjadi baru untuk salah satu diantara kami.

Di pertemuan penghujung tahun kemarin, ia mengingatkan aku tentang menjadi anak. "Anak tetaplah anak bagi orang tuanya. Sampai kapanpun. Sekaya dan semampu apapun kita. Berlakulah tetap sebagai anak terhadap orang tua kita," ujarnya.

Ia mencontohkan, kadang ia justru merengek pada orang tuanya untuk ditraktir makan di luar rumah.

"Ada kebanggan buat orang tua, saat membayar makanan untuk kita. Bercerita pada kasir, dan mengeluarkan uang dari dompet atau saku celananya. Orang tua pasti akan menceritakan dengan bangga tentang anaknya," ujar Kunto saat cahaya di sawah belakang rumah perlahan mulai temaram.

Cerita yang sangat sederhana. Yang ia ceritakan kembali dari sebuah tulisan entah di mana.

Dan cerita ini yang mengoyak kesadaranku, bahwa di umur-umur seperti saat ini kita selalu menanamkan diri untuk balas budi membahagiakan orang tua. Membelikan mereka ini itu, membuatnya nyaman, mengajaknya ke sana dan kemari. Dan banyak lagi. Lalu kita kadang lupa, untuk tetap menjadi anak bagi orang tua kita.

Saat datang berkunjung, melihat ibu repot memasak sesuatu, kita melarangnya. Mbok sudah duduk saja, nanti kita beli makanannya. Atau berpesan, ibu jangan capek-capek.

Kita lupa, menyiapkan makan, membuatkan minum, merapikan tempat tidur ternyata panggilan kenangan yang menyenangkan bagi orang tua kita. Mengingatkannya pada zaman kita masih di bawah pengasuhan penuh orang tua. Orang tua yang ingin selalu memastikan kenyamanan buat kita.

Teringat aku pada teh panas yang sudah disiapkan uti saat aku baru menginjak ruang tengah. Atau jahe panas bikinan Pak Mardi, angkringan sebelah rumah. Kadang dilengkapi dengan dua tiga bungkus sego kucing, mendoan bakar, ceker atau swiwi yang menguar aroma gosong bekas dibakar.

"Udah makan belum, mau makan apa?" Itu selalu yang menjadi pertanyaan utama. Meski sudah cemepak, seringkali aku bilang sudah kenyang. Atau kadang tak menyentuhnya seketika. Teringat ujaran Kunto, menyesal rasanya menolak. Apapun yang tersaji, itu cara orang tua memanggil kembali memori bahagianya.

Sudah bertahun-tahun terjadi, setiap kembali ke Jakarta, Uti selalu membawakan sebungkus nasi, lengkap dengan lauknya. Untuk Benaeng Taruwara. "Pasti lapar turun dari pesawat nanti. Buat dimakan di taksi," pesannya.  Pernah, Uti nyusul ke bandara, khusus hanya untuk mengantarkan nasi bungkus yang tertinggal di meja.  Dulu, saya sering enggan. Karena toh beli makanan bisa dimana saja. Lebih praktis.  Sekarang saya pasrah saja. Dan benar, Bhumy selalu terpanggil lapar begitu pantat menyentuh kursi taksi.

Kakung lebih heboh lagi. Krupuknya dibawa. Mangganya juga. Yang di meja masukin ke tas semua. Itu ada roti di kulkas, bawa aja. Perintahnya. Terlebih kalau Lebaran atau Natal, biasanya ada banyak makanan bertoples-toples di meja. Sudah pasti aku menolak. Karena semua dibelikan justru untuk rumah di Yogya. Persediaan kalau ada yang datang. Atau teman ngemil nonton TV.

Kemarin, ketika semua barang sudah masuk mobil, Kakung bilang, mangga madunya dibawa. Untuk cemilan di jalan. Jadilah aku kupas, potong-potong dan masuk dalam dua tupparware. Ada satu lagi. Sambel. Setiap pulang, saya selalu minta dibuatkan ibu  sambel untuk bekal kembali ke Jakarta. Saya paling malas buat sambel di apartemen. Bisa bau seluruh koridor dan membuat orang bersin-bersin.  Sampai Jakarta aku tambah dengan kecombrang atau sere. Jadilah setoples sambel beranak jadi dua toples.

Mudah-mudahan, potongan mangga dan sambel ini membuat eyang kakung dan uti bahagia menjalankan perannya sebagai orang tua.

Ada baiknya, stop mengeluh, ketika di kendaraan atau tas kita dijejalkan beragam makanan. Atau bahkan beras hasil panen. Sayur dari kebun. Buah-buahan dari pekarangan. Bukan kita tak mampu beli, tetapi menerima dengan ringan hati siapa tahu kita mampu menggenapi bahagia orang tua kita. Menghapus khawatirkan. Hanya untuk memastikan kita baik-baik saja. Nyaman dan tercukupi.

Mungkin kita pun suatu saat akan menjalankan peran ini. Dengan lebih drama barangkali.

Minggu, 17 Desember 2017

Namanya Tahun Bahagia

Dear Bhumy,

Tahun ini begitu menyenangkan untuk kita lalui. Dalam suka dan dukanya. Duka yang hanya  boleh kita rasakan  sesaat dan melupakannya. Sementara rasa suka terus dan terus kita pelihara. Ada banyak cara buat kita untuk selalu tertawa. Memperhatikan orang lewat atau menceritakan kembali lelucon lucu di masa lalu. Buat kamu, tertawa lebih mudah lagi. Membaca bukupun kamu bisa terkikik sendiri. Begitu mudahnya kamu  merasa bersuka.

Ingatkah kamu, begitu sukanya kamu dengan percik kembang api dan keramaian tahun baru? Itu  moment bahagiamu.

Kembang api, yang kau sulut dengan raut ketakutanmu saat masih begitu kecil dulu. Kau pegang begitu hati-hati. Penasaranmu melebihi takutmu. Saat kau berhasi memegang setangkai kembang api, kau merasa berhasil mengalahkan ketakutanmu sendiri.  Percik-percik itu mungkin begitu ajaib buat kamu.

Anakku sayang,  mulai tahun ini, Bunda ingin  percik kembang api menyala dalam hati dan pikiranmu. Nyala kembang api yang indah dan tertanam dalam setiap kenangan, kamu dan aku. Hemmmmm tahukah kamu, tanpa kamu sadari, percik-percik kembang api  itu mulai tumbuh  di hati dan pikiranmu. Jadi kerlip yang menyemangati tiap langkapmu.

Anakku, sahabatku, Bunda hanya ingin , kita berdua tumbuh  dengan saling percaya dan menyayangi . Bunda ingin  menjadi teman dan sahabat Bhumy. Kita bisa  mengingatkan kelingking kita dan mengerlingkan mata  untuk persetujuan baru ini.

Ya, cukup menjadi teman. Tempat kita bisa saling cerita tanpa  prasangka. Mengeluh atau mengaduh. Dan juga melakukan keusilan-keusilan yang menyenangkan.
Sebentar lagi  kamu tumbuh  besar. Bunda ingin melihat kamu tumbuh desawa dan menjadi dirimu sendiri.  Menjadi apapun  kamu di masa depan nanti. Tidak akan meresahkan Bunda.  Jalani hidupmu, ikutilah keinginan terbaikmu. Pergilah kemana hatimu membawa. Menjadi apapun nanti, kamu tetap membanggakan Bunda, karena kamu adalah percik kembang api indah yang abadi buat Bunda. Ever and forever.

Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Bunda masih harus terus belajar dan belajar lebih  giat  lagi.  Maaf bila  dalam perjalanan, ada bentakan, ada kata-kata keras dan ada nada perintah. Semua  kadang terjadi  begitu saja. Anggap saja, aku sedang dapat nilai ujian jelek ketika melakukannya. 

Setiap tahun, selalu menjadi tahun terbaik kita. Tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Perbanyaklah teman. Karena mereka adalah saudara kita di mana  berada.

Tahun ini dan tahun-tahun ke depan, perbanyaklah melihat dunia. Supaya tidak picik pikiran kita. Pergilah kemana saja kaki membawa, karena sebetulnya itulah buku kehidupan yang sedang kita baca. Tak akan pernah habis  lembar-lembar cerita tentang Indonesia dan dunia.

Dengan  banyak berjalan, engkau  bisa membuat banyak cerita kehidupan.
Satu hal Bhumy,

Bahagia itu letaknya di hati. Jadi,  apapun perjalananmu nanti tetaplah bahagia dengan apa yang terjadi. Sederhanakanlah segala sesuatunya. Dalam hidup, hanya ada dua pilihan bahagia atau sedih, senang atau susah. Pilihlah bahagia, senang dan mudah.

Anakku,
Kalau dalam perjalananmu nanti ada bimbang dan ragu, ingatlah arti namamu Benaeng Ulunati Bhumy Taruwara. Beningnya kalbu tempat tumbuhnya bibit pohon terbaik atau kebaikan,
Sayang bunda untukmu, tidak akan lekang oleh waktu.

Terima kasih sudah menemani perjalanan hidupku. Terima kasih, kamu sudah memberikan hal-hal yang baik dalam pertumbuhanmu dari kecil hingga saat ini.

Bersinarlah Bhumy, tetap setia seperti matahari

Love you

Bunda

Sabtu, 02 Desember 2017

Kekuatan Sapa



Seperti kebanyakan anak-anak,  @bhumy  hanya melirik buku yang aku bawa. Tebal. Dan pasti isinya tulisan semua. Barangkali itu yang ada di benaknya.

Long weekend kami tanpa banyak pilihan. TV yang sengaja tak boleh dinyalakan sepanjang libur panjang ini. HP Bhumy yang aku simpan. Mau manyun? Itu pilihan dia.

Oh ya, kami berkomitmen untuk hanya sedikit menonton TV. Biasanya di saat weekend. Dua jam sebelum mata terpejam. Ini semacam pengantar tidur saja. Kapan-kapan aku ceritakan bagaimana bisa hidup minim tontonan TV ini.

Aku tahu, buku-buku Raditya Dika sudah dibacanya berulang-ulang.  Dan masih saja selalu ketawa ngikik dengan kalimat-kalimat ajaib Raditya. Juga buku-buku foto yang dicetak tebal. Dia sudah menyisir Hiroshima nya John Hersey. Muhammad Ali. Atau antologi jurnalisme sastrawi mas Andreas Harsono dan teman-teman.

Buku #MataLensa Mbak @berryadek mau nggak mau dia sentuh juga. Dan matanya terbelalak ada namanya yang disebut oleh penulisnya, "For Bhumy." Hanya  itu saja.  Tetapi ini ternyata magnet baginya.

"Kok Tante Adek  tahu namaku?"
"Ini bener buat aku?" Dan yakkkk....pintu masuk sudah dibuka.

Mulailah aku bilang, ini buku hebat. Ditulis fotografer perang. Dia banyak pergi ke daerah-daerah perang dan bencana.

"Fotografer perang" rupanya ini makin membuatnya penasaran. Beberapa buku tentang pembebasan sandera, kisah heroik, dan sejarah perang sudah dibacanya. Kisah-kisah yang membuatnya ikut deg-degan ternyata membuatnya makin penasaran.

Aku ingatkan Bhumy, kalau kita pernah ketemu Tante Adek pas ujian taekwondo, sekian tahun lalu. Aku melengkapi imajinya tentang Mbak Adek yang selalu ke lapangan dengan beberapa kamera, tele dan tripod yang berat. "Mungkin 10-20 kg" ujarku. "Dia kuat?" Tanyanya.

Buku dan imaji dia tentang fotografer yang sering meliput di area berbahaya, melekat kuat. Lembar demi lembar buku ini, yang akan jadi pendorong Bhumy menjadi apapun di masa depan nanti.

Dan semuanya hanya bermula dari sapa: For Bhumy.

Jumat, 01 Desember 2017

Rasa yang Membunuhmu



Pernahkah kamu khawatir anakmu tak sepandai teman-temannya?
Atau khawatir, tumbuhnya tak sempurna. Terlambat bicara, telat jalan, dan sebagainya.

Pernahkah khawatirmu menggelisahkan tidurmu karena takut masa depan seperti apa yang akan anakmu rasakan nanti?

Jujur, rasa takut ini kadang menghantui hari-hari kita. Demi masa depan yang lebih baik, kita mencambuknya dengan berbagai kegiatan.

"Semua demi masa depan kamu. Tidak ada orang tua yang punya maksud jahat untuk anaknya," begitu sering kita dengar argumennya.

Demi kehidupan yang lebih baik, kita mengatur jam demi jam kegembiraannya. Hingga anak lupa bagaimana bergembira atas dirinya sendiri. Bahkan anak tak tahu, ia berhak gembira yang tak direkayasa.
Kita, orang tua dan bukan Tuhan Yang Maha Esa.

Lepaskan...lepaskan kekhawatiranmu ttg masa depan anakmu. Belajar melepas ikhlas anak panahmu.

Biarkan ia, mengikuti air, angin dan cahaya hidupnya.

Selasa, 19 April 2016

Dunia pada Selembar Kertas



Terberkatikah Cai Lun  atau juga yang  dikenal dengan nama Ts’ai Lun.  Hidup di masa  Dinasti Han abad ke 1–2 Masehi. Karena dialah kita mengenal surat cinta. Begitu juga ijazah SD dan akta nikah. Tertera pada selembar kertas dan bukan lempengan timah atau keramik yang mudah pecah.

Bayangkan, ketika akta pernikahan dari keramik dan retak dimakan zaman, lalu potongannya disambungkan dengan retakan yang lain, maka nama pasangan kita pun akan berubah saat itu juga.

Apa jadinya, kalau kita harus membawa sabak kemana-mana hingga saat ini. Berapa banyak sabak untuk bisa menikmati cerita panjang seperti novel.






Maka kesempatan jalan-jalan ke pabrik kertas menjadi kegembiaraan tersendiri pagi itu. PT Pindo Deli Pulp and Papers Mill di Karawang. Hampir 2 jam perjalanan lancar dari Jakarta.

Rerimbunan acacia crassicarpa tegak berdiri. Langsing, ramping dan berjejer dengan indahnya. Ini adalah bahan baku utama untuk pembuatan  kertas. Ada jenis yang lain. Mangium ataupun eucalyptus. Dan beruntungnya Indonesia dengan sinar mataharinya yang berlimpah. Bahan baku ini bisa dipanen dalam waktu yang cepat, 5-6 tahun saja. Negara dengan berbagai iklim dingin harus sabar menanti panenannya, bisa 15-20 tahun.

Tegakkan pohon ini akan dicincang dan masuk ke dalam mesin, menjadi bubur. Dengan sentuhan bahan-bahan kimia, jadilah kertas dengan berbagai kegunaan dan ukuran. “Kertas kita tersertifikasi halal, dan aman digunakan,” ujar Jumali, dari Pindo Deli yang menjelaskan siang itu.

Kantuk yang semula datang kala penjelasan proses, menjadi hilang ketika musik jingkrak hinggap di telinga. Cara cerdas perempuan berjilbab yang memandu kami siang itu, menggantikan Jumali. Mata pun jadi nanar melihat video proses produksi kertas diputar. Sesekali ditimpal suara perempuan berjilbab tadi.

“kita akan tour melihat proses sebenarnya. Tapi ada aturan tidak boleh memotret di area produksi. Semua proses dikendalikan oleh sensor-sensor yang dipantau lewat computer,” jelasnya. Sensor yang sensitif akan menolak kilatan cahaya yang tak semestinya. “Proses bisa terhenti karena itu,” tambahnya.

Meski pun begitu, legalah kami, ketika tetap ada kesempatan berfoto di dekat jumbo roll kertas. Bukankah update status dan pamer foto dengan objek tak lazim tetap harus dilakukan oleh kaum narsis seperti kami. Hehehheheh ……….




Bau pabrik, selalu khas. Apapun produksinya. Beberapa akan mengatakan bau dolar. Beberapa akan mengatakan bau karena panas yang menguar. Entahlah kenapa bau khas itu yang saya suka. Di luar itu, melihat pabrik, laksana melihat Negara. Sangat  tertata. Berjalanlah di sebelah kiri untuk naik dan turun di sebelah kanan. Jalankan kendaraan 30 meter perjam. Tidak boleh merokok. Harus berhelm. Memakai masker. Penutup telinga. Berjalan dalam line kuning.

Tanpa sadar kami sedang menata informasi dalam pikiran kami. Bahan baku kertas itu dari Hutan Tanaman Industri dan bukan dari hutan alam. Kayu yang digunakan diameternya kecil dan bukan log yang besar.

Saya juga sedang mengolah informasi dalam otak kecil ini, bila industri pulp dan merupakan industri nasional yang sangat potensial, tentu dia tidak boleh mati. Bayangkan,  saat ini Industri pulp nasional menempati peringkat ke-9 dunia dengan kapasitas mesin terpasang 8 juta ton/tahun.  Sementara untuk industri kertas nasional menempati peringkat ke-6 dunia dgn kapasitas mesin terpasang 13 juta ton/tahun.



Namun sayangnya, konsumsi per kapita kertas di Indonesia masih sangat rendah: 32,6 kg. Sementara USA 324 kg, Jepang 242 kg, dan Malaysia 106 kg.  Bandingkan lagi konsumsi per karpita kertas negara lain: Belgia 295 kg, Kanada 250 kg, Singapura 180 kg.  Saat ini kebutuhan kertas dunia sekitar 394 juta ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020.  Demand kertas dunia tersebut potensi Indonesia untuk meningkatkan ekspor pulp & kertas dengan unggulnya sumber daya alam kita.



“Mbak, kenapa sih konsumsi kertas kita rendah? Bukankah budaya baca kita cukup baik?” tanya teman dudukku sore itu. Dan disinilah jebakan betmen itu mulai lagi, daya baca rendah, konsumsi kertas lemah. Ahhh…….


Saya harus segera kembali ke Jakarta. Berburu senja. Sambil menebak wajah Ts’ai Lun seperti apa dalam pendar warna jingga.

 

 


 

Emmy Kuswandari, 19 April 2016

Pic Note: Jaka Anindita, Eriko and friends

 

 

Sabtu, 27 Februari 2016

Seblak


Nanar aku menatap kamu. Aneh. Asing. Menyelidik.
Itu adalah saat kita pertama kali bertemu. Merona merah tampakmu. Tajam aku mencium baumu. Kusentuh dan kau liat mengaduh.

Kalau kau perawan diambang matang, tentulah banyak yang ingin menggodaimu. Dan itulah kamu. Tak perlu menunggu mereka menggodamu. Justru kamu yang datang menantang. Menyumbui indra rasa mereka. Ah, kau senang melihat orang bernafsu ingin menyentuhmu. Dan kau akan terbahak, begitu mereka tersedak oleh hawa cintamu.

Kau terbahak dan terbahak. "Tambah lagi pedasnya? Kurang pedas cumbuanku?" rayumu. Dan mereka hanya mengangguk pasrah dengan racunmu.

Aku hanya  menyentuh lembut dirimu awal ketemu dulu. Maaf, aku tak terbiasa dengan tampilan dan rasamu. Aneh. Dan tajam baumu. Tapi....entahlah.  Sungguh aku tidak mengenalmu. Buatku aneh, bercinta dan tak mengenal.

Tapi justru keanehan dan tajam baumu terus mengikutiku. Kemanapun. Seolah kamu pengen bilang: Sini cumbu aku.  Ahhh.....jauhlah. Aku tak mengenalmu.

Dan baumu bagai bayangan dirimu. Mengikuti dan melekatiku.

Sudah!

Aku kapok kamu terus menghantuiku. Iya aku sentuh kamu. Dan aku menyukaimu. Puas?

Dan sekarang aku yang tergila-gila padamu.









Rabu, 09 September 2009

Beban

“Papa sih genit pakai menolong gadis tadi. Gara-gara papa sih kita jadi telat. Akibatnya kita jadi tidak bisa ketemu Pak Anu yang super penting itu. Kan susah cari waktu lagi. Coba kalau kita langsung jalan, pasti ada orang lain yang menolong dan kita tidak telat,” protes seorang istri. Masih panjang protes yang disampaikannya.

”Aku sudah meninggalkan gadis cantik tadi berjam-jam yang lalu, ketika usai kutolong. Tetapi kenapa kamu masih ”membawa” dia ke sini,” ujar sang suami.

Ini petikan sederhana dalam keseharian kita. Seringkali kita masih mengungkit-ungkit kejadian tidak menyenangkan di masa lalu dan menghadirkannya kembali di ruang keluarga, di kantor atau di cafe-cafe. Atau menyimpannya hingga menjadi bangkai di pikiran kita.

”Saya tidak bahagia. Kesalahannya di masa lalu tidak bisa dimaafkan. Gara-gara dia hidup saya tidak bahagia. Sakit rasanya,” ujar seorang teman. Rasa sakit ini sudah ia simpan sejak belasan tahun lalu, tapi ia masih membawa beban itu hingga kini.

Jamak bukan kita mendengar keluhan seperti ini?

Sama seperti sang istri atau kawan tadi, seringkali kita tidak mau melepaskan saja beban masa lalu itu. Kita tetap membawanya kemana pun kita pergi.

Padahal, kita hanya perlu meninggalkan ”gadis cantik” atau beban itu usai menolongnya atau memaafkannya, agar penderitaan segera berlalu. Tidak ada gunanya kita terus merasa sakit dengan hal-hal yang sesungguhnya sudah selesai.


Emmy Kuswandari

Selasa, 08 September 2009

Inspeksi

Saya selalu suka akhir pekan. Ini saat my me time, entah di Jakarta atau Yogya. Saat internet nyala sepanjang waktu. Saat saya bisa menyusur jalan dengan kekasih kecilku. Saat saya tak henti main tebak-tebakan atau melakukan hal-hal konyol berdua. Dan saat saya bisa menari sepanjang waktu dengan Bhumyku. Gayanya? Muter-muter seperti pesawat terbang, megal-megol tidak karuan atau dansa a la Bhumy: kaki kecilnya ditumpangkan di atas kaki saya, berpegangan tangan dan jalan seperti robot. Akhir pekan memang selalu lain rasanya.

Saya yakin, di hari kerja, Anda lebih akrab dengan PDA, agenda, jadwal meeting, memeriksa pekerjaan, bertemu dengan ABCDE, balik meeting lagi, kasih instruksi dan lain sebagainya. Bergerak, bergerak, memeriksa, merencakan, evaluasi.

Kita memeriksa anak buah dan mendapai mereka kerja tidak maksimal
Memeriksa klien dan menemukan banyak ketidakberesan
Memeriksa kontrak dan menemukan banyak kecurangan
Memeriksa persiapan even dan menemukan banyak hal yang tidak memuaskan
Memeriksa PR anak dan mendapati banyak nilai mengecewakan di mata kita
Memeriksa baju untuk esok dan mendapati ketidakserasian
Memeriksa mawar tersayang dan melihatnya layu di pot

Begitu sibuknya waktu demi waktu kila lakukan untuk memeriksa segala sesuatu di luar diri kita.

Tapi seberapa sering kita bertanya, sudahkah kita memeriksa ke dalam diri kita sendiri? Sudahkah hari ini kita memeriksa kemana hidup akan melangkah.
Sudahkah memeriksa hati dan pikiran kita?
Sudah cukup positifkan hari ini?

Yang jamak terjadi, dalam hidup kita disibukkan dengan memeriksa orang lain, hal lain, pekerjaan lain. Dan lupa memeriksa diri kita sendiri. Sampai akhirnya lupa arah dan mendapati diri kita hampir tenggelam dalam keputusasaan. Padahal kata sang bijak: Do not expect until you inspect.

Emmy Kuswandari, usai weekend yang menyenangkan di Jakarta.

Energi

Hidup di Jakarta membuat saya harus flesibel. Menerobos kemacetan dengan ojek atau bergelantungan di Bus Trans Jakarta. Saat paling nyaman tentu di sejuknya taksi ber AC. Tapi apapun saya nikmati. Termasuk keliling Jakarta kota tua dengan ojek sepeda.

Pagi itu saya memutuskan naik taksi. Begitu meletakkan pantat, sopir taksi dengan pet Tino Sidin itu sudah mengeluhkan pendapatnnya yang tidak mencapai target selama puasa ini. Dirinya baru saja sembuh dari sakit selama beberapa waktu. Anak-anaknya merengek baju baru dan kue istimewa di hari raya. ”Saya sih hanya bisa janji, karena pasti tidak akan dapat THR tahun ini,” ujarnya. Perusahaannya menerapkan quota tertentu untuk THR.

Ia yakin tidak bisa memenuhi janji itu. ”Untuk makan saja susah,” tambahnya. Peniti emas, penghargaan masa pengabdiannya dijualnya seharga Rp 400.000. ”Daripada dipajang malah ilang, mending dijadikan uang,”alasannya. Cerita ketidakberuntungannya masih panjang. Perjalanan 30 menit penuh dengan keluhan. Mungkin ia lega.

Lalu mata saya tertumbuk pada ”manusia gerobak” , tuna wisma yang hanya memiliki gerobak sebagai tempat tinggal dan mencari nafkah. Kalau malam, di gerobak itu pula, kaki-kaki lelah ditumpangkan. Di gerobak-gerobak yang lain, anak-anak kecil mencari secuil kehangatan di dalamnya.

Lelaki pembawa gerobak itu tertawa lepas. Perempuan - mungkin istrinya - menyumbang senyuman. Kardus, botol bekas minuman mineral dan plastik itu jadi rezekinya. Artinya: secangkir beras untuk berdua bakal didapatnya. Toh hidup hanya perlu secangkir beras setiap harinya.

Ekor mata sopir taksi pun merekam adegan itu. ”Bahagia itu gampang ya Pak. Hanya punya kardus, botol bekas dan plastik rombeng pun sudah membuat mereka tertawa lebar,” ujar saya. Lalu, jeda panjang mengantarkan saya ke tujuan. Ketika turun, sopir itu pun berujar: ”Terima kasih, Bu.” Matanya sendu, mungkin malu yang dicampur galau.

Dalam hidup kita sepanjang 30, 40 bahkan 50 tahun ini, apa saja sih isinya?

Mungkin kita lebih fokus pada:
• Keluhan
• Menyalahkan
• Memaki
• Sumpah serapah
• Menyebar isu
• Memanas-manasi
• Pemicu masalah
• Ketakutan
• Merasa paling menderita
• Reaktif
• Menurunkan motivasi

Sepanjang hidup. Lalu kita pun menjadi penyerap energi (negatif). Hasilnya? Tabungan negatiflah yang lebih besar kita dapatkan. Plus bunga-bunganya. Menderita banget tidak sih? Hidup sekali saja kok menderita.

Daripada merepet dengan keluhan dan menjadi penyerap energi (negatif) mending menjadi pemancar energi (positif). Apa sih ciri-cirinya:

• Fokus pada tujuan
• Memberi tanpa syarat
• Bertanggung jawab
• Dapat diandalkan
• Pemecah masalah
• Memiliki motivasi untuk berkembang
• Mentalitas pemberi
• Proaktif
• Menciptakan
• Bicara lebih baik dan tentang hal baik dengan orang lain
• Bahagia


Lebih indah mana? Hayooo mau pilih energy sucker atau energy giver? Cinta adalah mata iar motivasi yangmengalirkan semangat indahnya kehidupan.

Emmy Kuswandari
Menjelang berbuka dengan teman-teman sambil bercerita tentang writing is a lifestyle.

Jakarta, September 2009

Minggu, 06 September 2009

Kencan Istimewa

Sabtu lalu kencan saya sangat istimewa. Komplit pakai telor dan penuh cinta. Daripada nanti saya ditanya siapa lelaki beruntung itu lebih baik saya sebutkan namanya: Agus Sufriyadi (ada di FB dan link saya). Masih muda, baru 23 tahun. Brondong booooo.....

Agus melebihi lelaki manapun yang pernah saya kenal selama ini. Tingginya proporsional. Hari itu ia memakai celana kain warna hitam dan kaos tiga warna – biru putih dan hitam. Rambutnya rapi. Di telinganya terselip earphone. Keren. Mirip Paspampres.

Dia datang telat ketika kami, teman-teman dari berbagai komunitas, sedang belajar tentang No Limits. Begitu ia membuka pintu, saya tahu lelaki itu sangat percaya diri. Dan benar dugaan saya. Ia memang sangat percaya diri. Ia pernah ke Hongkong menyemangati saudara-saudara kita yang bekerja sebagai TKI di sana. Agus sukses berwirausaha. Tempat dagangnya ada di beberapa tempat.

Di mata saya, Agus memang sangat istimewa. Saya masih sering tidak percaya diri ketika salah kostum atau berada di lingkungan yang baru. Tetapi ia tidak. Begitu cair Agus membaur bersama kami. Meski untuk bicara, ia sedikit mengalami ketersendatan. Perlu bantuan seorang kawan untuk melengkapi atau menjelaskan kata-kata Agus.

Earphone itu adalah alat bantu dengar yang ia pakai sepanjang hidupnya, hingga saat ini. Ya, Agus menderita Celebral Palsy serta mengalami gangguan pendengaran.

Tapi begitu bersemangatnya ia tentang hidup. Kami mengundangnya sebagai pembicara, tetapi ia malah larut menjadi peserta seperti kami. Dan hatinya....hemmm...penuh dengan cinta, toleransi dan kepedulian.

Saat kami menggambar tentang cita-cita, hambatan dan hidup yang kami inginkan ke depan, ia menggambar tentang dirinya, satu temannya yang buta dan satu yang tuna rungu. Lalu ia melengkapi gambarnya dengan tulisan ”Allah” dalam huruf Arab. Ia menggambarkan betapa ia cinta dengan tuhan dan ingin hidup di jalannya.

Sampai hari ini ”kencan” dengan Agus begitu membekas. Menorehkan catatan di hati. Agus begitu bahagia dan bersyukur terhadap segala kekurangnnya. Tapi kenapa kita justru seringkali mengutuki kelebihan kita? Di tengah keterbatasannya, Agus “menumbuhkan” tangan, kaki, mata dan pendengaran bagi teman-temannya, tapi kenapa kita seringkali justru “memangkas” segala kelebihan teman-teman kita, hanya supaya biar kita sendiri yang eksis dan menonjol.

Gus, tarima kasih ya. Kencan kemarin begitu menyemangati saya. Terima kasih boleh bersalaman, mendengarkan kata-katamu dan menikmati gambarmu. Buatku, kamu adalah gambaran kehidupan yang sangat indah.

Salam hormatku untuk ayah ibumu, yang mengajari kamu tentang hidup, tentang cinta dan tentang rasa.

Kamu membuatku kembali mensyukuri semuanya. Bukankah rasa syukur merupakan ungkapan emosi yang paling kuat? Yang mampu membersihkan racun-racun yang dihasilkan oleh rasa takut, tidak nyaman dan marah.

Terima kasih ya Gus.

Minggu, 30 Agustus 2009

Peta

Suatu hari Marcopolo – lelaki penjelajah itu – menangis. Air matanya tumpah di tanah. Lelaki perkasa itu menitikkan air mata karena tak ada lagi tempat yang bisa ia jelajahi. Tak ada lagi peta yang bisa direngkuhi.

”Kenapa kau menangis, Marcopolo?” tanya seseorang penduduk.
”Karena tak ada lagi tempat yang bisa aku jelajahi. Tidak ada lagi peta menantang untuk menginjakkan kaki,” ujarnya.
”Begitukah? Lihatlah ke bawah, tempat air matamu tumpah. Air mata itu adalah peta yang bisa kau jelajah. Air mata anak-anak, air mata perempuan, air mata lelaki. Air mata itulah kehidupan yang tidak pernah habis kita jelajahi,” ujar penduduk itu lagi.

Garin Nugroho mendongengkan itu untuk saya – dan kita, tadi malam. Ya Garin mendongeng.

Ia melanjutkan. Di Lamalera, ada tradisi bertukar hasil gunung dan hasil laut. Lurah menjadi wasitnya. Begitu peluit ditiup, orang gunung dan laut saling membertukarkan hasil mereka. Ini upacara tentang ekonomi orang gunung dan pantai. Pertukaran itu tanpa saling mematikan. Garam telah menghidupkan gunung, gunug telah memberikan sayuran bagi nelayan.

”Pertukaranlah! Jangan jadikan kematian dalam ekonomi, ” kata sang filsuf. Dibalik garam, dibalik padi: ada kehidupan, ada puisi ada harapan, ada keluarga. Itu yang kita lalui. Tapi kini kita tak jadi filsuf ekonomi. Kita jadi makelar, yang paling mengerti menukar kehidupan dengan kematian, dalam sistem ekonomi yang saling mematikan. Menukar apel Malang dengan apel Zwitzerland. Garam lokal dengan garam impor.

”Mata air dan sungai adalah kehidupan kita.”

Mata air itu adalah kehidupan kita, garam kita dan gula kita. Sepotong apel lokal, penuh dengan cita-cita dan harapan. Termasuk gabah. Gabah adalah baju terakhir para petani. Jangan buang baju terakhir kaum tani. Gabah mereka jual dengan harapan. Kalau gegabah menghargai gabah, maka sama artinya dengan membuang baju terakhir para petani.

Jadikan mata air kita punya sungai. Kalau tidak punya sungai maka air mata ini akan menjadi badai. Sungai harus kita bangun lagi.

Lalu Franky Sahilatua pun mendendangkan mata air tanpa sungai. Dan dongeng selesai.

Dongeng. Begitu dasyat tutur ini mempengaruhi imaji saya ketika kanak-kanak. Membuat saya mampu membayangkan putri kerajaan, pengemis, pemulung, kelaparan, badai dan hujan. Juga merasakan kasih sayang induk ayam kepada anak-anaknya.

Sampai kini pun, saya suka terkekeh sendiri ketika eyang Bhumy - anak saya – mendongeng kancil dan buaya, tentang robot atau pun pesawat. Lalu tawa eyangnya pun akan meledak, kalau ada tanya dari Bhumy di luar akal dewasa eyangnya.

Dongeng ayah menjelang tidur dulu, ternyata kini jadi pelita yang tak pernah padam di pikiran saya. Berimajinasi tentang apa saja. Dan ia tetap menyala.

Lalu, anak pun jadi dewasa, tanpa sempat kita mendongeng untuknya. Karena sibuk kerja.
Sudahkah ada dongeng malam ini untuk cinta kita?


Emmy Kuswandari, Agustus 2009


Dalam perjalanan Jakarta - Yogya

Selasa, 25 Agustus 2009

Titik Nol


Kamu menimbang berat badanmu pagi itu. Memastikan jarumnya mulai di angka nol. Bergeser sedikit saja, kamu akan menggerutu, karena timbangan tak tepat lagi katamu. Kau begitu setia dengan timbanganmu. Tepatnya dengan angka nol, sebelum kau injakkan kaki di sana.

Padahal, tak penting bagiku berapa berat badanmu. Kau yang selalu risau. Buatku, menawan itu tampak dari sorot matamu, ketika kau berucap ”Aku sayang kamu,” setiap menitnya. Mungkin melebihi anjuran minum obat dari dokter yang cukup tiga kali sehari. Menarik itu dari tutur dan sapaan hangatmu. Karena kamu bicara dari kedalaman hatimu.

Tapi, mengapa titik nol itu begitu penting bagimu?
Dan ternyata aku suka jawabanmu. ”Karena ia adalah awal,” katamu waktu itu. ”Seperti keluarga. Seperti rumah kita. Bagiku, di sini adalah awal dari segalanya.

Ya, di rumah ini memang awal bagiku dan kamu. Tempat aku menggali kembali energi terbaikku. Tempat lelah tertawarkan. Tempat penat tersembuhkan. Kamu memang cerewet dengan segala aturan rumah tangga. Barang ini harus di sini, barang itu tak boleh bergeser. Kadang aku merasa aturan itu mencekikku. Riuh di rumah kadang membuatku rindu kesendirianku.

Tapi ternyata, justru di kesendirian saat ini, aku sangat merindukan keriuhan itu. Di jidatku tak boleh kutuliskan ”Jangan ganggu aku”, karena memang kamu atau kalian di rumah itu bukan gangguan.

Tak seberapa penting angka setelah 1, 2, 3 dan seterusnya. Karena dari nol lah semua bermula. Terima kasih cinta, sudah mengingatkanku titik awal itu. Bukankah pantai akan kelihatan indah karena memang ada riak dan gelombang.


Saat-saat menuju ke fitri, Agustus 2009

Jumat, 21 Agustus 2009

Simbok


“Mbak, maaf kita tidak jadi ketemu. Aku mau pulang, ketemu simbokku,” suara di ujung telepon itu menjawab konfirmasiku untuk janji bertemu sore itu. Aku mengiyakan dan berjanji untuk ketemu usai akhir pekan nanti.

Kembali ke simbok, buat temanku adalah kembali kekehangatan. Kembali menjadi diri sendiri dan kembali menjadi yang selalu menakjudkan di mata sang ibu.

Seorang teman yang lain dengan bangga memajang foto mamaknya di fesbuk. Tulisnya: ”Ini mamak mertuaku. Datang dari ujung Kalimantan. Aku bangga memiliki mamak seperti dia. Sangat anggun.” Ia begitu bangga dengan mamak mertuanya. Mamak yang jauh dari polesan metropolis, tapi begitu anggun dan sophisticated, menurutnya.

Simbok, emak, mamak – panggilan jadul, tapi eksotis bagiku.

Jujur, sekali atau sesekali dalam paruh umur kita, pasti pernah merasa sangat terganggu dengan perhatian ibu. Tidak saya, tak juga Anda. Tapi kita. Ketidaknyamanan komunikasi dengan ibu, entah ibu kandung, ibu sambung atau ibu mertua.

Kebawelan ibu kadang membuat kita risi dan rasanya ingin pergi. Tak leluasa menentukan keputusan, tak bebas membuat pilihan. Terlebih dengan ibu yang powerfull, rasanya keputusan kita tidak ada artinya.

Saya sadar, komunikasi tidak selamanya mudah, meski itu dengan seorang ibu.

”kenapa ingin pulang ke simbok, Mbak?” tanyaku.
”Hanya dia yang selalu membuat aku menjadi seseorang yang istimewa. Apapun yang aku ceritakan, simbok akan menanggapi seolah-olah aku yang paling hebat di dunia. Respon simbok selalu sama, dari dulu,” ujar teman saya.

”Sampai saat ini, simbok selalu begitu,” ujarnya. ”Padahal aku tahu, yang aku lakukan hanya hal biasa saja, mungkin malah tidak ada artinya,” tambahnya.

Kawan lain menimpali: ”Hubunganku dengan ibu justru lebih baik ketika ibu sudah tiada.
Ibu memang sudah pergi. Tapi dia meninggalkan sejarah yang kami jalani hingga saat ini. Sebuah jangkar yang tidak dapat diambil oleh siapapun, lanjutnya.

Sementara buat aku: Ibu adalah perpustakaan pertamaku.


Saat malam panjang sendirian di Jakarta. Agustus 2009

Minggu, 16 Agustus 2009

Hening


Izinkah aku menulis tentang kesendirian. Mungkin ini adalah saat yang dibenci, juga oleh diriku. Tapi bisa jadi, ini adalah rasa yang paling dicari, oleh mereka yang hidupnya selalu bergemuruh.

Saat sepi menyergap diriku, aku menerimanya dengan terbuka. Aku sadar dengan pilihanku, pilihan untuk merasakan kesendirian. Meski kadang hidupku begitu bergemuruh, dan menolaki kesunyian.

Sendiri, buatku bukan jeda. Ia adalah keheningan panjang yang sangat nyaman. Mungkin ia seperti dinihari, ketika kau dan aku tak bisa memejamkan mata. Ketika kita mendaraskan doa, atau masuk dalam hening di denting waktu. Saat aku melupakan kesendirian, atau justru masukinya.

Izinkan saya menulis tentang gelap. Dinihari adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir. Tapi di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi. Justru saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang terang.” Agaknya pada diniharilah gelap adalah sebuah ajektif bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kelebihan: gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya; ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya.

Ah, aku ngelantur ya.
Aku cuma ingin bilang, itulah nikmat. Menggelisahkan, tetapi membuatku sangat nyaman. Meski kadang dalam otak kecilku memberontaki, tetapi aku sadar aku justru menawan diriku di sini.

Dalam hening dinihari, aku mempunyai banyak waktu untuk bicara dengan diriku sendiri. Dan bicara denganmu, kalau kau merasakan itu.

Kamis, 13 Agustus 2009

Harapan


Panggung di Jakarta tidak pernah habis cerita. Panggung di sini adalah mall atau pusat perbelanjaan. Dalam gemerlap mandi cahaya, saya bisa menjadi siapa saja.

Di mall pula, sihir dilakukan. Rasionalitas dipojokjauhkan. Masih jelas tergambar ketika sale 70% sandal gambar buaya di Jakarta membuat orang rela antri berjam-jam untuk mendapatkannya. Berjan-jam! Meninggalkan pekerjaaan, meninggalkan anak dan urusan penting lainnya. Makan tidak makan yang penting dapat sandal gambar buaya.

Jadi ingat, dulu saya juga punya dogma yang sama: kalau sale dan tidak beli, rasanya dosa. Kapan lagi kalau bukan sekarang.

Saya belanja, maka saya ada – emo ergo sum. Cocok banget. Aku gitu lho, kalau tidak punya barang bermerk, apa kata dunia. Begitu kata di sudut diri kita.

Belanja tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan pokok. Konsumerisme sudah mengubah dari konsumsi yang seperlunya menjadi konsumsi yang mengada-ada.

Motivasi belanja tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan dasariah, tetapi sebagai pemenuhan identitas.

Manusia tidak lagi membeli barang dan jasa, tetapi merk. “Di dalam perusahaan kami membuat kosmetik, di dalam toko kami menjual harapan,” ujar Charles Parson, seorang CEO.

Jadi harapan itulah yang diburu. Berharap seperti seleb, berharap menjadi manusia kota kalau kita berhasil membeli merk. Harapan inilah imaji ideal kita. Mall menjual, kita membeli.

Konsumerisme menawarkan kesempatan dan pengalaman. Dan itulah yang kita beli. Tindakan membeli ini yang menimbulkan kepuasan dalam diri kita, tak laki tak perempuan.

Ah, Decartes pasti tertawa kalau melihatnya.


Emmy Kuswandari, Jakarta Agustus 2009

Di sela-sela training CRS Forum.

Timbangan


Sayang,
Aku tahu, kau bangga dipuji atasanmu. Kau pun bahagia karena kenaikan gaji itu. Syukuran kemarin untuk merayakan promosimu. Wah, hebat ya. Dalam karir, makin tinggi, makin besar gaji, makin ok. Melejit. Makin pesat makin baik.

Begitu juga temanmu yang jadi pengusaha atau pedagang. Makin banyak tender, makin girang. Yang jadi pedagang pun begitu. Makin banyak untung, makin senang. Makin laris, makin manis.

Begitu ya dalam pekerjaan.

Lalu, suatu malam kutanya: bagaimana dengan peranmu di keluarga? Apakah kau menginginkan sayap agar terbang lebih tinggi? Kamu diam. Tak menjawab.

Kalau kau terbang, itu artinya kau menjauh. Tak terjangkau. Tak tersentuh. Meski tanpa kau sadari sering begitu. Karena rapat, karena tugas luar kota, kau jadi jauh. Meski kau akan bilang: “Sayang, semua demi kita. Demi keluarga.” Demi pekerjaan, kamu akan bilang begitu.

Aku hanya takut, kami akan lupa bagaimana bentuk senyummu. Bagaimana aroma tubuhmu.

Aku tak ingin kamu terbang makin tinggi untuk peranmu di keluarga. Yang aku ingin: justru makin dalam, makin dalam dan menukik. Di kedalaman hati kami.

Berbagi peran. Berbagi tanggung jawab. Apa kau tahu, kemarin anak kita, mogok tak mau sekolah. Apa kau tahu, celana panjang anakmu sudah jadi ¾? Keberhasilanmu tak kami ukur dengan dengan skala tinggi dan makin tinggi. Tapi justru bagaimana kau makin dalam, masuk dalam relung keluargamu ini.

Aku ingin, kau menikmati peran ini. Tempat kita kembali berenerji. Tempat kita bisa saling menyemai.

Jadi, maukah kau makin dalam menikmati peran ini, cinta?

Emmy Kuswandari, Jakarta Agustus 2009